Gadis Peragu

Gadis itu menatap nanar tanda tak percaya. Bagaimana mungkin sahabat yang baru setahun dikenal bisa meminta dia untuk membuka hati dan memberi kesempatan mendekatinya. Sahabat laki-laki yang tak pernah sungkan mengutarakan kebejatannya gonta-ganti perempuan.

“Beri aku kesempatan. Sejak pertama melihat kamu, aku memiliki hasrat tersendiri. Tidak sama seperti perempuan lain. Kamu berbeda. Kamu gadisku, Dan takkan pernah aku samakan dengan yang lain,” ujar si pria saat meminta waktu bertemu dengan si gadis di sebuah restoran.

Di sisi lain, sang gadis tak ingin sahabatnya ini patah hati. Terlebih lagi, sejak mereka berkenalan sudah sama-sama merasa cocok satu sama lain. Apapun yang dilakukan oleh si gadis, walau terlihat bodoh di mata orang lain, namun menyenangkan bagi si laki-laki. Mereka pun saling mencari. Ketika hendak berkumpul, masing-masing saling memberi kabar. Jika si gadis atau laki-laki berhalangan hadir, maka semangat mereka menurun. Pertemuan takkan jadi menyenangkan.

Dan kebetulan, saat laki-laki tersebut mengutarakan perasaan, situasinya sedang berbeda. Si gadis baru saja menyelesaikan kisah dengan mantan kekasihnya. Dia merasa sudah saatnya pergi karena tidak melihat ada cahaya positif jika terus bersama dengan pria tanpa ekspresi yang bertahun-tahun bersamanya itu.

Tak perlu waktu lama bagi si gadis untuk menganggukan kepala tanda mengiyakan. Tetapi, dia meminta waktu agar bisa perlahan-lahan percaya kepada laki-laki tersebut. Karena dia sendiri takut, jika kelak langsung berhubungan, si laki-laki akan ingkar janji. Kembali kepada rutinitasnya pergi ke klub malam dan bercinta satu malam dengan perempuan yang berkenalan di sana.

“Aku ini tidak bejat-bejat amat. Sebelum kamu, ada perempuan lain. Tapi kamu berbeda. Kamu tahu kebiasaanku tapi tak pernah menghakimi. Aku berjanji akan membuatmu percaya kepadaku,” tutur si laki-laki.

Keberuntungan sedang memihak kepada si laki-laki pada malam itu. Usai mengantar si gadis ke rumah, dia melanjutkan pulang. Tekadnya sudah bulat. Takkan ada lagi perempuan lain. 
“Gadis yang baru saja membuka hatinya untukku adalah yang paling tepat. Lepas sudah segala kegundahanku saat liburan di pulau kemarin.”

Momen-momen liburan kala itu memang menyenangkan sekaligus menyesakkan baginya. Senang rasanya si gadis tertawa melihatnya ketika berusaha melucu. Namun miris karena harus menahan rasa agar tidak mengejutkannya dengan mengatakan cinta. Si laki-laki masih belum yakin betul, apa si gadis sudah benar-benar melupakan mantan kekasihnya.

Satu, dua, tiga hari terlewati. Saatnya rombongan kami meninggalkan pulau nan indah. Kegelisahan si laki-laki semakin menjadi. Rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaan. Keluh-kesah si gadis tentang mantan kekasihnya selama mereka berduaan dalam tenda jelang tidur membuat si laki-laki tersenyum bahagia.

Si laki-laki berpikir, tak ada satu pun kelebihan yang dimiliki mantan kekasih si gadis. Dan tersirat keinginan si gadis untuk benar-benar menjauh dan membuka lembaran hidup yang baru. “Aku harus coba merebur hatinya. Kesempatan emas ini tak boleh disia-siakan.”
*** 

Sudah dua pekan keduanya berhubungan dekat. Satu sama lain mulai menunjukkan hasrat positif. Di sela-sela kesibukan, tak jarang mereka menyempatkan diri makan siang atau malam bersama. Dan hampir di setiap jelang tidur, keduanya berbincang melalui telepon. Mereka tak hentinya tertawa.

Si gadis semakin senang berada dekat dengan si laki-laki. Dibawa main ke lingkungan baru dan dipuja layaknya bidadari. Perasaannya sebagai gadis manis pun mulai tumbuh, setelah bertahun-tahun dimatikan secara paksa oleh mantan kekasihnya. 

“Ini pacar baruku. Kalian sebentar lagi akan melihat kami bersanding di pelaminan,” dengan bangga si laki-laki mengatakan itu kepada teman-teman kantornya saat bersama si gadis menghadiri sebuah pesta perkawinan kalangan jetset.

Si gadis sempat tertegun mendengar ucapan itu. Bukan dia menolak. Hanya dia masih butuh waktu lagi untuk percaya seratus persen si laki-laki kembali ke tabiat buruknya. Mendapati kenyataan yang bisa membuat peluangnya berkurang, si laki-laki mencoba cara lain.

Akhir pekan berikutnya dibawa serta si gadis bertemu kedua orang tuanya. Gayung bersambut, si gadis mengiyakan dan meminta pendapat harus tampil seperti apa. “Haruskah aku cat hitam kembali rambut ini? Orang tuamu tokoh masyarakat. Aku tak ingin membuat kecewa.”

“Sebenarnya aku suka warna rambutmu sekarang. Tapi, kalau tidak kamu tidak keberatan untuk mewarnai hitam kembali tentu aku akan sangat senang,” jawab si laki-laki.

“Aku harus tampil baik di hadapan orang tuamu. Tidak enak juga kalau nanti aku dilihat memiliki nilai negatif,” ujar si gadis sambil tersenyum menenangkan.
***

Tak ada ucapan mengenai kesepakatan keduanya menjalin hubungan. Tetapi sikap satu sama lain sudah memberi tanda akan hal itu. Setelah si gadis bertemua orang tua si laki-laki, kunjungan sebaliknya terjadi. Dan respons orang tua mereka pun sama-sama baik. Mereka bahkan didorong untuk serius menatap masa depan.

Setiap hari. Setiap malam. Setiap jam. Keduanya saling berbagi keinginan kelak akan hidup seperti apa. Mereka juga saling berbagi tentang apa yang sedang dihadapi. Hubungan semakin menghangat. Tinggal mencari momen tepat mempertemukan orang tua masing-masing sekaligus menjadi acara pertunangan.

“Baiknya, bagaimana kalau orang tua kita bertemu sebelum ramadhan tiba. Kita bisa sekaligus silaturahmi dan momennya tepat juga untuk membicarakan tanggal pernikahan.”

“Satu bulan lagi ya? Rasanya cukup untuk aku mengumpulkan uang membeli cincin untukmu. Baiklah. Kamu tentukan tempat yang cocok. Biar sisanya aku yang mengurus,” jawab si laki-laki dengan nada menegaskan kesiapan.
***

Gangguan itu datang ketika si gadis dan si laki-laki berakhir pekan ke daerah pegunungan. Niat awal mereka pergi berdua adalah mencari tempat agar bisa berbicara panjang lebar mengenai persiapan acara pertunangan nanti. Begitu tiba di penginapan, si gadis menyalakan telepon genggamnya. Ada beberapa pesan dan notifikasi telepon dari mantan kekasihnya.

Si gadis coba memberi respons dengan menjawab pesan singkat. Tak lama langsung berbalas. Sekira dua menit kemudian, si laki-laki keluar dari kamar mandi usai membersihkan badan. Tanpa sempat membalas, si gadis langsung memasukkan telepon genggam kembali ke tas.

Hampir tiga jam keduanya berbincang dan menghasilkan beberapa kesepakatan serta ide-ide baru. Si laki-laki mengeluh lapar, dan berinisiatif pergi ke restoran di lantai bawah untuk memesan makan. Ketika ditinggal, si gadis menyempatkan diri membalas pesan kekasihnya. “Nanti ya sesampai aku di rumah, kamu ambil tasnya. Maaf karena aku sedang berada di luar.”

Si gadis langsung mematikan telepon genggamnya. Dia tak ingin si laki-laki, calon suaminya menjadi kecewa atau marah karena tahu mantan kekasihnya masih coba menghubungi. Tetapi, dia juga menjadi hilang fokus saat melanjutkan perbincangan. Karena terbayang-bayang mantan kekasihnya yang tiba-tiba berubah lembut menuliskan kalimat dalam pesan singkat.

Hantu itu semakin dekat. Dalam tidur dia bermimpi bertemua mantan kekasihnya di tepi jalan sedang menunduk lesu. Si gadis menjadi ketakutan karena telah menbuat hidup orang lain berantakan. Hantu itu semakin menjadi-jadi berperan dalam mimpinya. 

Beruntung sinar matahari membuatnya membuka mata. Nampak sosok si laki-laki yang sedang tertidur pulas dengan wajah yang berbeda. “Aku takut dia kembali ke tabiat bejatnya,” gumam si gadis.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bakat yang Hilang

Alkisah, seorang pendendam yang kehilangan kemampuan untuk membenci. Dia tidak mampu melawan ketidakberdayaan. Berdamai dengan rasa sakit yang begitu menyiksa. Selalu datang tiba-tiba. Mengesalkan. Tetapi tak bisa ditolak. Marah kepada diri sendiri dan melampiaskannya ke orang lain. Itu jalan pintas yang terpikir sekilas olehnya. Jadilah. Peperangan sebelah tangan. Yang diajak menjadi lawan tak memberi tanggapan. Selesai.

Kekesalan masih tersimpan. Caranya ternyata tidak ampuh untuk memantik dendam itu muncul. Bodohnya. Lingkar otaknya tak cukup untuk memikirkan apa yang pantas untuk dilakukan. Atau mungkin lawan enggan menanggapi karena sudah tidak peduli. Masuk akal. Untuk apa menanggapi, cuma buang-buang waktu. Tak ada mesin yang bisa membawanya kembali ke belakang. Andai pun ada, dia tidak tahu harus berhenti di mana. Sebagian matahari sudah tertutup awan. Akan datang gelap. Dan dia yang tak lagi bisa mendendam meringkuk ketakutan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

NGENTOT

N datang pertama kali. Ruangan masih kosong. Menyusul kemudian G yang sejak dari parkiran motor bergegas menuju ke lantai dua. Tak berselang lama, E melongok dari kejauhan. Dia menghembuskan nafas panjang, sebab ruangan masih kosong. N menatap ke arah belakang sambil tersenyum. Dalam hati dia berpikir, bocah itu tak berubah, masih saja mudah panik.

10 menit berlalu. T akhirnya tiba di ruangan, dan mengambil tempat duduk di pojok kanan belakang. Seperti biasa, dia memang laki-laki pemalu. Acara pun dimulai. Ada tiga orang duduk menghadap ke deretan bangku undangan. Mereka berapi-api bicara mengenai masa depan negeri ini. Riuh tepuk tangan para undangan ketika ada salah satu dari tiga orang di depan yang mengutarakan sindiran kepada pejabat negeri.

60 menit berlalu. Sesi tanya jawab dimulai. N, G, E, dan N (lagi) menyerbu ketiga orang di depan dengan banyak pertanyaan. Ketika pembawa acara hendak menutup rangkaian kegiatan, T mengacungkan jari. Sambil menatap layar telpon genggam, dia mengucapkan pertanyaan. Sayangnya O datang ketika pertanyaan T selesai dijawab. Dia hanya bisa terduduk di bangku paling belakang dengan wajah serius, tanda mengintai rekan-rekannya yang terlebih dahulu datang dan sudah mengirimkan laporan ke kantor.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Babi-babi Kalah

Babi pemimpin barisan menatap tajam ke arah belakang. Dia menerka-nerka apakah babi bernomor 24 sedang dalam keadaan tidak sehat. Bukan tanpa alasan babi pemimpin berpikir seperti itu. Sebab, babi nomor 24 terlihat lesu.

Sejak bergabung tiga hari lalu, babi nomor 24 memang terlihat lesu. Tetapi, ketika itu babi pemimpin menganggapnya sebagai hal biasa. Setiap babi yang bergabung dalam kelompoknya pasti sedang dalam masalah. Bahkan tak sedikit yang datang dengan keputusasaan.

Di sinilah peranan babi pemimpin diuji. Dia harus mampu membuat babi-babi putus asa kembali menemukan jalan hidupnya. Dengan penuh kesabaran, babi pemimpin selalu coba merangkul anggotanya. Dia pancing dengan segala jenis obrolan, sampai pada akhirnya memberi tanggapan yang menenangkan.

Tapi, kali ini berbeda. Babi nomor 24 sudah coba diajaknya berbicara. Namun tak sedikit pun menyisakan celah untuk dipancing lebih jauh. “Babi ingusan ini bisa menggoyang kredibilitasku sebagai motivator nomor wahid di negeri para babi,” gumam babi pemimpin sambil mendengus kesal menunggu barisan terakhir tiba di peristirahatan.

Babi nomor 24 akhirnya tiba juga di tempat peristirahatan. Dia langsung menyambar kuali berisi air yang diikatkan di pundak babi nomor 3. Saking hausnya, dia menyeruput tanpa permisi. Perjalanan selama 13 jam di gurun pasir membuatnya hampir pingsan. “Gila! Metode seperti ini bisa membuatku terbunuh,” keluh babi nomor 24 dalam hati.

Barisan babi-babi kalah sudah lengkap. Butuh waktu 20 menit bagi mereka melepas lelah. Ini adalah tes kedua mereka setelah bergabung dengan kelompok bentukan babi pemimpin. Motivator kesohor di negeri para babi. Anggota baru hanya ada tiga babi, selain nomor 24, ada pula nomor 23 dan 25.

Kedua babi tersebut memutuskan gabung dalam kelompok karena jagoan yang mereka usung dalam pilkada kalah. Mereka tidak bisa menerima kenyataan pahit. Impian menduduki jabatan staf khusus bupati lenyap tak berbekas. Selain itu, mereka juga dituduh menggelapkan dana kampanye. Dikucilkan selama sebulan penuh dari komunitasnya membuat kedua babi frustrasi.

Saat pertama tiba, babi nomor 23 diajak berbicara oleh babi pemimpin. Tanpa kesulitan berarti, obrolan terus berlanjut hingga dini hari. Babi pemimpin merasa harus segera menyudahi obrolan, karena istrinya pasti sudah gelisah menunggu di kubangan. Di daerah baru, ancaman akan selalu datang tengah malam. Entah itu dari harimau atau manusia kelaparan.

“Temanku akan datang menyusul besok. Apakah dia akan mendapatkan kesempatan yang sama denganku?” tanya babi nomor 23.

“Sudah pasti. Tapi aku harus berbicara dengan babi muda yang mendaftar setelahmu. Sepertinya tak lama, karena aku lihat dia hanya memiliki masalah kecil,” sahut babi pemimpin sambil berjalan menuju ke kubangannya.

Sesampai di kubangan, babi pemimpin menatap istrinya dengan penuh kasih sayang. Dia masih gadis saat datang beberapa bulan lalu. Gadis babi yang cantik namun menyimpan banyak kekesalan terhadap kekasihnya yang buta akan perasaan. Setelah gabung dengan kelompok babi-babi kalah sekitar satu bulan, muncul benih-benih cinta antara mereka berdua.

Babi pemimpin selayaknya motivator merupakan sosok yang selama ini dicari oleh gadis babi. Mampu menunjukkan perasaan dengan tindakan, serta selalu memberi perhatian. Kekeringan selama beberapa tahun dengan kekasihnya yang lalu pun mulai menghilang. “Aku layak membuka hati untuknya,” kata si gadis babi saat mendengar ungkapan rasa sayang dari pemimpin babi di suatu malam nan romantis.

Jauh sebelum menyandang identitas nomor. Babi nomor 24 bertemu dengan gadis babi di sebuah rumah makan. Momen ini tanpa kesengajaan. Saat itu,babi nomor 24 sedang ingin mengumpulkan fragmen-fragmen kenangan indahnya. Sedangkan gadis babi sedang kelaparan, dan ingin menyantap makanan kesukaannya di restoran tersebut.

“Aku sudah menemukan penggantimu,” kata si gadis babi memulai pembicaraan. Tanpa saling menawarkan, keduanya duduk berhadapan dalam satu meja.

“Sejak kapan? Apa dia ikut denganmu sekarang?”

“Tidak perlu. Kamu habiskan saja pesanan itu sambil kita berbincang,” jawab si gadis babi.

“Apakah dia tidak akan marah jika melihat kita berdua,” sergah babi nomor 24.

“Itu urusanku dengan dia. Kamu tidak perlu tahu.” Mendapat jawaban seperti itu, nyali babi nomor 24 menciut. Dia meraih gelas minuman dan menyeruputnya dengan cepat. Rasa haus dan grogi mendengar ketegasan mantan kekasih membuat kerongkongannya terasa kering.

II

Sepanjang perjalanan menuju kubangan, babi nomor 24 memaksakan diri agar bisa menerima keadaan. Dia tidak ingin mengutarakan kegelisahan dan ketidakpercayaan kepada gadis babi yang dengan mudah membuka hati untuk babi lain. Tapi harus pula diakuinya, babi itu jauh lebih baik ketimbang dirinya.

Rimba terasa gelap. Auman harimau menggema menghantui geraknya. Dari batang pohon alpukat nampak cahaya yang keluar dari bola mata monyet. “Kau lesu sekali. Buang gelisahmu sesampai di kubangan. Meloco mungkin akan membuat kau tertidur nyenyak,” kata monyet sambil tertawa keras.

“Pelankan tawamu. Aku sedang malas berlari menghindari harimau di tengah kegelapan seperti ini. Apa kau baru selesai meloco? Karena kulihat badanmu ringan sekali,” babi nomor 24 menimpali.

Kedua binatang itu memang kerap bertemu. Monyet berahang lentur. Setiap kali babi nomor 24 lewat di bawah potong alpukat, hampir selalu dihujani ledekan-ledekan, bahkan menjurus kepada kondisi fisiknya yang buruk rupa. “Jangan kau bersedih. Bayangkan saja tapir montok yang biasa mencari makan di pinggir sungai itu,” monyet kembali terkekeh.

Babi yang sudah tidak sabar ingin melanju”Aku babi dan dia tapir. Itu namanya melawan kodrat. Sekali saja ada binatang yang melawan kodrat, semua yang hidup di sini akan mendapat balasannya. Kalau aku bayangkan, kau mungkin akan mati karena kejatuhan dahan alpukat dengan kondisi kepala pecah.”

Babi nomor 24 merasa was-was ketika melihat cahaya petromak muncul dari pondok penjaga kebun yang bakal dilintasinya. Menjadi janggal karena biasanya pondok itu terisi di siang hari. Sepasang petani berusia 50an tahun menjaga kebun karet milik seorang saudagar asal Ibu Kota.

Siapa pula yang mau menjaga kebun di tengah hutan tengah malam dingin begini. Dan tidak mungkin sepasang petani yang biasa dia lihat di siang hari yang berdiam di pondok tersebut. Sambil berjalan pelan, agar suara langkahnya tak terdengar, babi nomor 24 melongok ke dalam pondok. Pintu berukuran kecil dibiarkan terbuka.

Ada suara orang bersenandung dan kepulan asap keluar melalui jendela. Manusia itu masih muda, berusia sekira 20an tahun. Dia menghisap lintingan dengan tatapan nanar ke arah langit-langit. Lagu yang dia senandungkan bercerita tentang manusia yang patah hati ditinggal kekasihnya.

Manusia menghadapi kekacauan dalam hidupnya dengan beragam cara. Salah satunya pemuda dalam pondok. Memilih lari ke dalam hutan, dan menyelami kegundahannya seorang diri. Lintingan yang dihisapnya mengingatkan babi nomor 24 kepada celoteh monyet beberapa hari lalu.

“Manusia sekarang ini memiliki kenikmatan baru. Tembakau buatan negeri Tiongkok menjadi konsumsi yang membuat mereka bisa melupakan segala masalah yang dihadapi.” Monyet mengatakan itu kepada dia ketika bermaksud memberikan nasihat agar meniru cara manusia untuk menghilangkan rasa kehilangan si gadis babi.

Ketika itu, baru dua hari gadis babi pergi meninggalkannya karena sudah tidak tahan dengan sikapnya yang kaku. Tak pernah mampu menunjukkan rasa cinta seperti yang dilakukan pejantan babi-babi lainnya. Bahkan tak jarang, gadis babi menjadi sasaran ledekan ketika berkumpul dengan para betina di tepian sungai.

Babi nomor 24 bergerak pelan mencari posisi ke dekat jendela. Dia melihat asap tembakau negeri Tiongkok yang dihembuskan si pemuda lebih banyak keluar dari sana. Pikirnya, mungkin bisa terkena efek memabukkan itu jika terkena asapnya. Ketika hendak menarik asap, tak sengaja dengusannya keluar. Dengan sigap dia merangkak ke kolong pondok dan bersembunyi di balik kayu penopang.

Si pemuda sempat mengeluarkan kepalanya dari jendela. Dia melihat sekitar dan tak menemukan apa-apa. “Dasar babi sialan. Kalau berani muncul di depanku, siap-siap akan aku jadikan dendeng dagingmu.” Dia berteriak kencang, dan suaranya menggema di belantara hutan. Babi sempat dibuat ciut juga nyalinya. Dia tak bergerak untuk sementara waktu.

Setelah semuanya agak tenang, dia coba keluar dari persembunyian. Tak sengaja, matanya menemukan secarik kertas yang sudah diisi dengan sebuah tulisan. Rasa penasarannya muncul, dan dengan gigitan halus, kertas itu dibawanya pergi. Tak jauh dari pondok, dia menemukan sebuah padang rumput luas, yang terang karena disinari cahaya bulan.

Di sana dia jatuhkan kertas tersebut. Dia coba meletakkan posisi kertas agar bisa membaca dengan nyaman. Dari wangi dan tingkat kebasahan tinta, bisa diduga oleh babi nomor 24, jika surat tersebut baru saja ditulis. Dan tidak lain tidak bukan, pasti si pemuda yang coba menuliskannya, tetapi terlalu pengecut untuk mengirimkan kepada manusia lain, sehingga memilih untuk membuangnya.

Air mengalir deras menerjang bebatuan yang pernah aku susun.
Tumpukan batu itu ternyata tidak sekokoh yang aku kira.

Sejak kita berbicara di restoran itu, aku akhirnya mencoba berdamai dengan perasaanku terhadap kamu. Tekad untuk coba meyakinkanmu untuk kesekian kali, surut begitu mendengar betapa kamu selalu dibayangi dendam akan kelakukanku di masa lalu. Aku mengerti betul bagaimana dendam itu amat dalam tersimpan di dalam hati. Menghapusnya butuh keberanian besar. Lalu, orang macam aku ini, apa iya bisa? Untuk membuatmu merasa nyaman dan aman barang setitik pun aku tak mampu.

Sejak pertengkaran sebelumnya, aku telah berikrar langsung kepadamu. Tetapi, sebagai lelaki yang seharusnya menunjukkan sikap memegang teguh janjinya kepada perempuan yang dicintai, tak ada satu aksi pun yang bisa memberi jaminan kepadamu semua akan terlaksana. Lantas kamu tambah kesal dan semakin tidak peduli. Bukan. Itu bukan salahmu. Takkan ada cinta dan perasaan sayang yang bisa kembali ketika kepedulian itu telah pergi. Aku sudah ketinggalan jauh mencegahnya untuk pergi.

Lalu lelaki itu datang. Kamu berbicara panjang lebar mengenai dia dan juga perasaanmu kepadanya. Kesanku yang pertama, dia orang baik, sekaligus beruntung, karena kamu mau membuka hati untuknya. Caranya memuja dan melindungimu dari lelaki lain yang tertarik kepadamu adalah sebuah aksi yang tidak pernah sekali pun aku lakukan. Keberaniannya adalah tindak nyata dari ketulusan. Aku selalu merasa tulus, tetapi hanya untuk diriku sendiri, tanpa kamu bisa turut merasakannya.

Pada titik ini, aku merasa layak masuk dalam barisan orang-orang kalah. Nyaliku tak menyala sedikit pun hanya untuk sekadar mencoba bersaing dengannya hingga titik penghabisan. Di sisi lain, aku ingin sekali memohon kepadamu untuk memberi waktu sedikit lagi. Tetapi aku harus sadar diri. Tiga tahun waktu yang kupunya untuk membuatmu kembali jatuh cinta seperti dulu sudah aku sia-siakan begitu saja.

Kesempatan terakhir yang aku punya untuk mengutarakan isi hati justru berakhir dengan tangisan.  Aku kira kamu sudah bisa mengambil kesimpulan dari situ. Aku adalah lelaki lemah yang hanya bisa memohon belas kasih karena tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya. Kamu tidak salah jika berpikir seperti itu. Karena aku adalah orang kalah yang lemah.

Malam itu, aku merasa senang karena dia tidak meneleponmu. Aku tak perlu lagi berpura-pura tersenyum ketika pecakapan kalian sudah selesai. Tetapi, pagi harinya aku harus kembali memalsukan diri di hadapanmu. Aku yang berpura-pura mempersilahkan kalian berbincang.

Ini pengalaman pertama buatku. Dan rasanya menyakitkan. Aku tidak berani untuk mencegahnya, karena aku bukan siapa-siapa lagi buatmu. Aku kira juga tak elok membuatmu terus merasa ketakutan dia tahu kalau kita masih bertemu. Kamu tentu tidak ingin membuat dia dan teman-temanmu kecewa.

Agar semua bisa berjalan baik untuk kalian, rasanya lebih baik jika aku undur diri. Hiatus sambil berdamai dengan perasaanku. Tidak mudah membayangkannya. Namun, aku harus memaksakannya. Ini yang terbaik untuk kamu dan dia. Tanpa aku terus merongrong dan pada akhirnya membuat semua menjadi berantakan.

Beribu terima kasih tak mungkin bisa membayar lunas niat baikmu untuk memberi penjelasan mengenai situasi saat ini. Aku sungguh mengapresiasi itu. Terima kasih juga untuk semua waktu yang diberikan kepadaku untuk mengutarakan perasaaan terakhir kalinya padamu. Kamu sudah berulang kali memberiku kesempatan, dan kini giliranku untuk melakukan hal yang sama.

Kalian berdua berhak untuk saling melakukan pendekatan tanpa adanya gangguan dari orang lain, termasuk aku.

“Orang ini sama kasihannya denganku. Tetapi dia lebih beruntung, karena mau menerima keadaan dan mengakui diri sebagai orang kalah. Apakah aku harus menirunya, dan bergabung dengan babi-babi kalah seperti yang pernah diceritakan oleh Ayahku.” Babi melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan surat itu dengan harapan si pemuda betul-betul mengirimkan surat kepada mantan kekasihnya.

III

Musim telah berganti. Panas terik dimulai sejak matahari belum tegak lurus ketika manusia mendongak ke atas. Babi nomor 24 berjalan sekira dua hari untuk mencari tempat pendaftaran anggota kelompok babi-babi kalah. Ketika waktu menunjukkan pukul 4 sore, nampak olehnya kumpulan babi sedang bersantai di lembah nan sunyi. Dia pun berjalan menurun dengan menambah sedikit kecepatannya.

Sesampai di bawah, dia langsung menghadap kepada babi pemimpin. Dengan gayanya yang berwibawa, ditatapnya raut wajah babi nomor 24. “Kamu penuh dengan keputusasaan. Apa yang membuatmu menjadi seperti itu? Tidak bisakah kamu menunjukkan rasa optimistis sedikit saja?”

“Saya datang ke sini dengan tujuan bergabung dengan babi-babi kalah. Saya ingin menikmati hidup ini dengan meratapi kegagalan hidup. Apakah saya sudah menemukan kelompok yang tepat, seperti yang pernah diceritakan Ayah saya?”

Babi pemimpin dengan tersenyum tipis memberi penjelasan singkat. Dia menceritakan bagaimana orang-orang di luar sana salah mempersepsikan kelompok bentukannya. Dia bilang, kelompok ini adalah kumpulan mereka yang mau mengubah keterpurukan menjadi lebih baik ke depannya.

Sebagai motivator ulung di negeri babi, dia merasa tidak ada seekor pun kawan sejenisnya yang layak bersedih. Diciptakan dengan bentuk buruk bukan berarti akhir dunia. Apalagi keputusasaan karena masalah hidup yang membuat terpukul. Bangsa babi adalah bangsa yang kuat diterpa cobaan dari bangsa lain.

Babi nomor 24 merasakan kecewa setelah mendengar penjelasan dari babi pemimpin. Dia malah menjadi tidak bersemangat lagi berada di dalam kelompok tersebut. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena jalan yang ditempuhnya amat jauh, dan untuk kembali dia akan bertemu dengan monyet penghuni pohon alpukat bermulut pedas.

Akhirnya dia memilih ikut dalam rombongan. Menjalani berbagai terapi yang telah dikreasikan oleh babi pemimpin. Mulai dari bercerita sampai berjalan merasakan penderitaan karena kelelahan. Namun, dia tidak mendapatkan manfaat apa-apa. Sampai akhirnya dia merasa marah tak bisa diredam.

Pada suatu pagi, ada tiga ekor babi bernomor belasan sedang berbaring di kubangan dan berbincang dengan suara pelan. Sayup-sayup pembicaraan itu terdengar oleh babi nomor 24. Ketiga babi tersebut sedang membicarakan perempuan yang kini menjadi istri babi pemimpin.

Dari nama, bentuk tubuh, dan sikap istri dari pemimpin mengingatkannya pada sosok gadis babi yang pernah membuatnya jatuh cinta, sekaligus jatuh dalam ketidakberdayaan. Dia merasakan betul jika yang dibicarakan babi-babi penggosip itu adalah mantan kekasihnya.

Babi nomor 24 berdiri dan berjalan ke arah di mana babi pemimpin sedang bersantai. Ketika hendak menanyakan kebenaran dan melampiaskan kemarahan, nyalinya tiba-tiba menciut. Tatapan babi pemimpin yang penuh dengan kewibawaan memaksanya untuk menyimpan bara dendam.

Dan tak berselang lama, babi pemimpin menginstruksikan agar kelompok kembali membentuk barisan. Dia menjelaskan program terakhir dari terapi yang telah diciptakannya. Setiap babi yang berhasil melalui periode ini, dia jamin bakal kembali menemukan motivasi untuk melanjutkan hidup.

Semua babi terlihat gugup dan ketakutan dengan tahapan terakhir ini. Bagaimana tidak, sebab mereka harus melewati sarang harimau yang terkenal angker di dalam hutan. Dari sana mereka harus berlari dengan menggunakan strategi yang diciptakan oleh babi pemimpin.

Hanya babi nomor 24 yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Dia merasa ujian ini menjadi penentu hidupnya. Semua babi bersiaga di tempat masing-masing. Dalam hitungan ketiga, gemuruh tapak babi-babi membangunkan harimau-harimau kelaparan. Mereka mengejar sekuat tenaga dan mengaum memberi tanda jika babi-babi sudah menemui ajal masing-masing.

Babi pemimpin berlari lebih lambat dari yang lain. Mungkin karena faktor usia. Melihat ancaman kepadanya besar, babi nomor 24 memilih mengurangi kecepatan berlari. Dia coba berbelok sedikit ke kanan agar posisinya berada di belakang babi pemimpin yang sedang menjadi buruan utama seekor harimau berusia sekira 18 bulan.

Ketika sedang berada di lembah curam, kaki kanan belakang babi pemimpin tersandung batu. Dia sempat kehilangan keseimbangan, namun beruntung ada pohon mahoni besar yang ditabrak dan membuat posisinya kembali seperti semula. Tetapi, insiden itu membuat jaraknya dengan harimau menjadi semakin dekat.

Merasa ancaman kepada babi pemimpin semakin gawat. Babi nomor 24 berinisiatif melakukan godaan kecil kepada harimau. Dia kembali mengarahkan tubuh lebih ke kanan dan melambatkan larinya. Dalam posisi di belakang harimau, babi nomor 24 memacu kecepatan dan menanduk bagian belakang sang pemangsa.

Gangguan itu membuat harimau marah. Dia berbalik memburu babi nomor 24 dan mengaum seolah kehilangan kendali atas kemarahannya. Mendapati hal itu, babi nomor 24 mencoba memisahkan diri dari kelompok. Dia memilih jalan yang rumputnya jauh lebih lebat.

Taktik yang membuat harimau semakin marah kepadanya. Dia terus diburu bahkan dengan tambahan dua harimau lain yang ikut mengincar dagingnya. 15 menit sudah berlalu, babi-babi lain sudah berada di tempat aman, menyebrangi kubangan berlumpur seluas kolam renang hotel-hotel bintang lima.

Di seberang mereka, ada sekira lima ekor harimau yang mengaum kesal karena tidak berhasil menangkap satu pun babi. Si pemimpin melihat ke arah sekitar dengan raut wajah cemas. Dia mencari di mana babi nomor 24 berada. Apakah dia akan menjadi satu-satunya anggota kelompok yang mati di fase terakhir programnya.

Tiba-tiba rombongam babi dikejutkan dengan pekikan khas seekor babi ketika terkena serangan. Kiiiiiiiiiiiikkkkk. Cemas wajah semua babi. Mereka seolah menunggu apakah akan ada pekik kedua. Beberapa detik menunggu mereka sedikit lega. Karena tapak kaki babi berlari terdengar semakin mendekat.

Buuuuuummmm. Babi nomor 24 menjatuhkan diri ke kubangan berlumpur. Dengan darah mengalir dari bagian belakang tubuhnya. Dia berusaha secepat mungkin melewati timbunan lumpur. Wajahnya sudah sangat lelah. Semua babi mendengus tanda gembira.

Sesampainya di ujung kubangan. Babi nomor 24 menggoyangkan tubuh, membuang lumpur tebal di tubuhnya. Babi pemimpin mendatanginya untuk mengucapkan terima kasih. Dia menjawab dengan anggukan sambil terus berjalan.

“Kamu mau ke mana? Kita beristirahat dulu di sini, karena harimau tidak mungkin mengejar sampai sini,” kata babi pemimpin memberi instruksi kepadanya.

Babi nomor 24 tidak menoleh sedikit pun. Dia memilih berjalan terus menuju luar hutan. Babi muda patah hati nan menyedikan itu telah memilih untuk keluar dari kelompok dan mencari jalan keluar bagi dirinya sendiri.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sisifus Tak Pernah Mencari Jalan Lain

 

sisifus

Sumber: doubtfulcynic.com

“5 tahun tugas di hall basket, 5 tahun di sini (Stadion Soemantri Brodjonegoro). Pernah sekali tes honorer K2, tapi gak lolos.”

3 hari lalu, usai bermain bola saya berbincang dengan seorang pekerja lepas di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. Momen itu tak berlangsung lama, mungkin sekira 20 menit. Namun, di antara kami tidak sempat bertanya nama.

Nukilan di awal adalah jawabannya atas pertanyaan sejak kapan bekerja di sana, dan untuk siapa. Sang Bapak saya perkirakan berusia pertengahan 30 tahun. Suaranya pelan, namun mampu bercerita panjang lebar dengan lancar.

Mulai bekerja sejak pukul 8 pagi, kadang jika ada acara lain, dia sudah harus berada di sana sejak pukul 5 pagi. Sang Bapak bukan tak bersyukur bisa bekerja sebagai tenaga lepas, tetapi di usianya kini, memiliki status sebagai tenaga honorer menjadi harapan untuk memperbaiki status ekonomi keluarganya.

Mendengar cerita tersebut, saya beberapa kali menerawang jauh. Bagi saya ini adalah kegetiran, namun saya dibuat tersadar dengan senyum sang Bapak. Dia sama sekali tak menyiratkan rasa putus asa akan keadaan yang dialami.

“Kalau nanti ada lagi, saya mau coba. Mudah-mudahan jadi rejeki.” Terlahir miskin dan tidak berdaya adalah sebuah kesialan. Namun, sang Bapak menolak kesialan tersebut menjadi paripurna. Dia melawan dengan kemampuan yang dimilikinya, tak peduli walau cuma secuil.

Sisifus tak pernah mencari jalan lain, meski batu yang dia dorong berulang kali terus-menerus kembali menggelinding ke bawah. Tidak pernah putus asa, dan terus mengulang dengan mengerahkan segala tenaga yang dimilikinya.

Albert Camus mendeskirpsikan tekad besar Sisifus sebagai sebuah pemberontakan. Tak perlu berputus asa dengan cara bunuh diri. Karena, jalan terakhir yang kerap ditempuh manusia-manusia tak berdaya itu hanyalah sebuah kesalahan.

Pada akhirnya Camus mengajak kita untuk melihat betapa Sisifus mampu terus berbahagia meski batu yang didorongnya ke puncak gunung tak pernah terjadi. Begitu pula dengan sang Bapak yang membuat saya tersadar, ketidakberdayaan bukan sesuatu yang mesti diterima begitu saja.

Saya masih bisa berusaha –atau yang lebih keras, memberontak dalam istilah Camus– untuk mementahkan ketidakberdayaan. Menerima keadaan karena membandingkan apa yang telah dicapai lebih baik dari orang lain hanya alternatif mencari ketenangan sementara.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Dia yang Selalu Membahagiakan

Saat yang lain meributkan tingkah sesama
Aku menganggapnya pekerjaan sia-sia.
Sebab, kamu ada disampingku dan terus bercerita
Keluhan yang kadang membuatku berpikir kamu menderita

Tapi, senyum itu. Senyum yang selalu menggangguku
Mengganggu perasaanku yang selalu ingin mencintaimu
Warnai harimu, meski dengan kesedihan
Karena kamu tahu pasti, Tuhan takkan membiarkamu sendirian

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Masalah Baru Pasca Transisi PSSI

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 10 November 2016 lalu memiliki Ketua Umum baru, yakni Edy Rahmayadi. Pria yang menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu dipilih sebanyak 76 pemilik hak suara dalam Kongres Pemilihan yang berlangsung di Hotel Mercure, Ancol.

Namun, ketika belum genap sebulan menjabat, Edy sudah ditimpa masalah organisasi yang pelik. Mulai dari perumusan keanggotaan bermasalah, seperti Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan lain-lain. Kini muncul lagi terkait gagalnya Persib Bandung dan Persipura Jayapura sebagai peserta Piala AFC 2017.

Sebagai juara dan runner up Indonesia Super League 2014 –kompetisi terakhir sebelum PSSI dibekukan pemerintah yang berujung sanksi FIFA– Persib dan Persipura memiliki hak untuk kembali berlaga di Piala AFC 2017. Kompetisi itu sempat mereka ikuti setahun lalu, sampai akhirnya harus berhenti di babak 16 besar karena masalah yang mendera sepakbola nasional.

Akan tetapi, mimpi para Bobotoh dan Persipura Mania menyaksikan tim kebanggaan kembali mentas di Piala AFC harus kandas. Sebab, kepengurusan PSSI sebelumnya, tidak mengakomodir kepentingan tersebut. Diketahui, AFC selaku otoritas tertinggi sepakbola benua Asia sudah berkirim surat meminta konfirmasi keikutsertaan Indonesia sejak 30 Oktober 2016 lalu.

Entah karena kesibukan menyiapkan Kongres Pemilihan atau memang lalai, kepengurusan PSSI ketika itu tak kunjung memberi jawaban. Begitu pula ketika PSSI sudah berganti kepemimpinan kepada Edy, kepengurusan lama tak memberi informasi mengenai surat AFC tersebut kepada mereka.

Alhasil kepengurusan PSSI baru dibuat terkejut setelah menerima pengumuman terbaru dari AFC. Di dalamnya disebutkan, wakil Indonesia di Piala AFC 2017 mendatang tidak melewati proses kualifikasi administrasi pertama, yang kini sudah lewat masa berlakunya. Sehingga, mereka tidak bisa diikutsertakan dalam kompetisi.

“Kami baru saja menerima konfirmasi secara informal dari AFC, bahwa wakil-wakil Indonesia tidak qualified karena deadline pendaftaran untuk Piala AFC 2017 sudah lewat. Kami sangat terpukul,” ungkap Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono kepada wartawan, kemarin.

Meski begitu, pria yang akrab disapa Jokdri berniat melakukan lobi sebisa mungkin kepada AFC. Karena, proses pengundian grup Piala AFC 2017 mendatang baru akan berlangsung pada 12 dan 13 Desember 2016 mendatang di Kuala Lumpur, Malaysia. “Kami sedang figth memberi penjelasan kepada AFC,” tegasnya.

Jika pun nantinya lobi yang dilakukan PSSI tidak berhasil, Jokdri mengaku tak ingin terlalu ambil pusing. Yang terpenting, pihaknya sudah melakukan upaya terbaik guna menyelematkan dua klub Tanah Air yang ingin membawa nama bangsa ke level internasional. “Ini upaya yang tidak mudah, tetapi kami akan melakukannya,” tuturnya.

Persipura Kembali Jadi Korban

Terkait masalah administrasi yang tak selesai diurus PSSI telah membuat Persipura tiga kali dirugikan. Pertama terjadi pada 2006 silam. Dengan status juara Liga Indonesia 2005, sepatutnya klub berjuluk Mutiara Hitam mentas di Liga Champions Asia sebagai wakil Indonesia bersama Arema yang berstatus juara Piala Indonesia 2005.

Akan tetapi, hak tampil di level internasional terbuang sia-sia karena hal sepele. Pengurus PSSI ketika itu, lalai dalam menjalankan kerjanya. Formulir pendaftaran kedua tim tak dikirimkan kepada AFC. Akibatnya, Persipura dan Arema pun dicoret dari daftar calon peserta.

Kesialan kedua yang menimpa Persipura terjadi pada 2015 lalu. Ketika sudah melaju ke babak 16 besar, mereka dijatuhi sanksi diskualifikasi oleh AFC. Masalahnya, ketika itu ada tiga pemain Pahang FA –lawan Persipura– yang terkendala masalah imigrasi.

Sebagai tim tamu, sepatutnya ada nota dari PSSI yang bisa memudahkan ketiga pemain Pahang FA tersebut untuk masuk ke Indonesia. AFC pun bertindak tegas. Mereka mengeluarkan keputusan, bahwa Pahang FA berhak melaju ke babak 8 besar tanpa harus bertanding melawan Persipura terlebih dahulu.

Terkait polemik ini, sempat terjadi lempar tanggung-jawab antara PSSI dan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). PSSI yang ketika itu berstatus non-aktif karena surat keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga nomor 01307 merasa sudah tak bisa menjembatani urusan administrasi Persipura.

Dan BOPI sebagai wakil pemerintah yang berwenang mengambil alih permasalahan tersebut. Namun, yang menjadi janggal ketika itu, Persib yang juga bertarung di kejuaraan yang sama masih bisa menjamu Kitchee FC. Berkas administrasi mereka untuk melakoni pertandingan tidak ada yang masalah.

Persipura Mania yang marah karena tim kebanggaannya diperlakukan seperti itu memilih terbang dari Jayapura ke Jakarta. Tepat di lobi kantor Kemenpora mereka mengamuk seraya membanting pot bunga dan tong sampah yang ada. Aparat keamanan yang berjaga pun tidak mampu menahan amarah tersebut.

“Tujuan kami datang kemari adalah melanjutkan aspirasi yang kemarin disampaikan oleh pecinta Persipura ke DPR Papua. Masyarakat yang awam atas sistuasi ini berpikir bahwa kenapa Persib Bandung bisa bertanding tapi Persipura tidak bisa,” kata anggota DPR Papua, Jack Komboy yang menemani para demonstran.

Tak berselang lama, delegasi Persipura Mania ditemani oleh wakil Kemenpora, Gatot S Dewa Broto menyambangi kantor AFC di Malaysia. Mereka menggelar audiensi hingga kemudian diketahui, ternyata memang kelalaian ada di pihak PSSI. Meski sedang non aktif, seharusnya mereka tetap bekerja mengkoordinasikan soal administrasi kepada klub.

Anggota DPR Papua lainnya, Yan P. Mandenas yang ikut beraudiensi dengan AFC mengungkapkan fakta jika PSSI sebagai biang keladi didiskulifikasinya Persipura. Bahkan, dia mengatakan mendapatkan bukti langsung dari Joko Driyono yang ketika itu masih menjadi CEO PT Liga Indonesia jika PSSI telah lalai.

“Menurutnya (Joko), PSSI adalah lembaga yang berperan sebagai sponsor Liga AFC dalam bertanggung jawab pada setiap tim tamu yang bertanding ke Indonesia. Kami menilai Persipura hanya sebagai alat konspirasi PSSI untuk dibenturkan dengan Pemerintah (Kemenpora RI) oleh mereka (PSSI) yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Yan.

Dendam Kepengurusan Lama

Jika kembali menilik masalah yang muncul jelang pergantian kekuasaan di tubuh PSSI dari La Nyalla Mattalitti ke Edy Rahmayadi, memang banyak intrik yang tersaji. Mulai dari pembangkangan klub dan anggota PSSI, hingga konspirasi para elite sepakbola yang dituding sengaja menjatuhkan La Nyalla.

Kelompok 85 yang dipimpin manajer Persib, Umuh Muhtar mengobarkan api perlawanan kepada La Nyalla dan kawan-kawan pertama kali. Bersama dengan para pemilik hak suara dalam Kongres PSSI lainnya, dia datang membawa dokumen mosi tidak percaya, sehingga mendesak dilakukannya pemilihan ulang Ketua Umum.

Sekretaris Jenderal PSSI ketika itu, Azwan Karim beserta M. Nigara yang menerima Kelompok 85 nampak jelas menyiratkan wajah ketidakpercayaan sekaligus sinis akan aksi ini. Mereka tentu tak mengira, ada yang berani memakzulkan La Nyalla yang ketika itu berstatus buronan Interpol terkait kasus korupsi.

Padahal dalam Kongres Luar Biasa PSSI setahun sebelumnya, La Nyalla terpilih secara aklamasi. Calon-calon yang ingin bersaing dengannya pada hari pemilihan memilih mengundurkan diri. Namun sayang, belum juga pemungutan suara dimulai, Menpora Imam Nahrawi langsung mengeluarkan SK nomor 01307 terkait pembekuan PSSI.

Menjadi Ketua Umum yang tak diakui pemerintah membuat gerak pria asal Makassar tersebut tersendat. Ketika hendak melakukan perlawanan dengan tetap berinisiatif menggelar kompetisi, ganjalan demi ganjalan datang. Izin dari kepolisian tak didapat karena Menpora tak mengeluarkan rekomendasi.

Akhirnya, dengan keputusan sepihak, rapat Komite Eksekutif PSSI memutuskan untuk menghentikan kompetisi sepakbola di segala jenjang. Alasannya karena sepakbola Tanah Air dalam keadaan force majeur, seiring mendapatkan ganjalan perizinan kepolisian yang dilakukan Kemenpora.

Bulan demi bulan berlalu. Akhirnya La Nyalla ditangkap kepolisian, dan dijebloskan ke penjara. Kepengurusan PSSI yang ketika itu ditinggalkan induk semang mulai gamang. Mereka tak bisa bertahan dari desakan untuk melakukan pemilihan Ketua Umum pengganti.

Jajaran Komite Eksekutif mulai mencair. Mereka memilih menuruti keinginan anggota. Namun, ada kejanggala-kejanggalan dalam setiap prosesnya. Seperti diketahui, Persebaya Surabaya yang bernaung di bawah PT Persebaya Indonesia merupakan musuh La Nyalla.

Mereka yang kala itu dipimpin oleh Saleh Mukadar dicoret dari keanggotaan dan digantikan oleh Persebaya di bawah naungan PT Mitra Muda Inti Berlian milik I Gede Widiade. Akan tetapi, di penghujung kepengurusannya, para Komite Eksekutif yang memang diisi oleh orang dekat La Nyalla melunak.

Diwakili oleh Tony Apriliani, mereka menyambangi para Bonek yang menuntut status Persebaya Surabaya dipulihkan dan berjanji di atas materai akan membawa masalah ini ke Kongres Pemilihan pada 10 November 2015. Tak sampai di situ, mereka juga berjanji akan memutihkan status klub yang pernah disanksi oleh PSSI.

Akan tetapi, kini yang mesti menyelesaikan semua masalah tersebut adalah kepengurusan Edy Rahmayadi. Mau tidak mau, suka tidak suka, polemik pemutihan status klub yang pernah disanksi harus dilakukan. Padahal, ada kasus besar nan menarik selain Persebaya di sini. Arema Cronus pimpinan Iwan Budianto memiliki masalah dualisme dengan Arema Indonesia.

Andai pun selesai, pasti bakal merugikan satu pihak. Arema Indonesia jika lolos pasti akan membuat kenyamanan Arema Cronus dalam beberapa tahun ini terusik. Sama-sama berkandang di Malang, dukungan dari Aremania pun bakal terbelah. Berkurangnya penonton bakal sangat merugikan.

Dan kini muncul masalah baru soal Persipura dan Persib. Spekulasi dendam kepengurusan lama pun kembali muncul memanaskan situasi. Manajemen Mutiara Hitam mengaku tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa berharap kepengurusan baru mampu melakukan lobi kepada AFC.

“Jika ternyata kami tidak bisa ikut lantaran masalah administrasi, tentu ini akan jadi luka kedua. Artinya, ada yang tidak belajar dari kesalahan masa lalu,” ujar Juru Bicara Persipura, Bento Madubun.

Dendam selalu menjadi masalah dalam persepakbolaan Tanah Air. Di era sebelumnya pun hal yang sama kerap terjadi. Dan yang terjadi adalah pelaku sepakbola yang selalu menjadi korban ketika para elite beradu gengsi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar