Doa Sebelum Tidur

“Kopi hitam segelas, Mak. Sekalian kalo ada pisang karamel yang masih anget barang dua-tiga biji,” kata Exsel sambil meletakkan bokongnya di kursi panjang kedai kopi Mak Ani.

Exsel seorang diri. Hari masih sekitar pukul 10 pagi. Tak ada kegiatan di kedai kopi Mak Ani. Maklum, sekarang hari pertama orang-orang masuk kerja usai libur lebaran. Bagi Exsel yang masih memiliki satu hari libur lebih dari orang lain, bukanlah sebuah kebahagiaan. Sebab, dia tak tahu mesti pergi kemana untuk menghabiskan waktu.

Di rumah tak ada teman bicara. Hari-harinya diisi dengan membuka sosial media dan membaca curahan hati teman-teman. Ada yang merasa senang kembali bekerja, ada juga yang mengeluh karena waktu liburannya yang mengasyikan terasa singkat.

“Tumben jam segini udah beredar, Sel?” tanya Mak Ani seraya menghidangkan pesanan Exsel di meja.

Mak Ani tahu betul perangai pria yang sedang duduk seorang diri di kedainya ini. Biasanya, dia datang sore atau malam hari. Pagi seperti ini jika sedang libur, biasanya Exsel lebih suka meminum kopi di rumah, dan sesekali nitip ke Ibunya untuk membeli gorengan di kedai Mak Ani.

“Iya, Mak. Tadi kebangun jam 3 subuh. Di rumah sepi, males juga cuma denger-denger lagu doang,” jawab Exsel yang dalam beberapa hari belakangan selalu terjaga dari tidur ketika dini hari.

“Biasanya kalo tidur kan kayak kebo. Ibu kalo ke sini sering cerita kelakukan lo kalo tidur,” timpal Mak Ani.

“Hahaha. Ngga tau nih, Mak. Tiba-tiba aja kebangun, dan abis itu susah lagi dimereminnya,” ucap Exsel.

“Mak kasih tau ya, Sel. Kalo tidur itu baca doa dulu. Minta sama Gusti Allah ketenangan. Kalo emang masih suka kebangun karena mikirin sesuatu ya berdoa lagi. Istighfar.” Exsel sedikit terkejut mendengar nasehat dari Mak Ani. Dia merasa orang tua dengan dua anak itu tahu apa yang sedang dirasakannya.

Mimpi yang baginya selalu buruk datang dengan cerita yang berbeda setiap harinya. Ketika terbangun, gelisah pun datang menghampiri. Tak jarang air mata menetes tanpa disadari ketika dia masih berada di atas kasur.

Tokoh-tokoh dalam mimpi Exsel beberapa hari belakangan selalu sama. Kalau boleh dibilang pemeran utamanya hanya tiga orang, yakni dia sendiri, mantan kekasihnya, dan seorang pria lain yang diduga oleh Exsel membuat mantan kekasihnya kepincut. Sisanya, hanya figuran yang sialnya justru mengukuhkan Exsel sebagai pihak yang kalah.

Tak bisa marah, hanya mampu merasakan gelisah. Exsel masih ingat betul cerita “Karamel Penikmat Rasa” versi Yanto beberapa hari lalu. Dia meyakini, ini bukan cuma soal kekesalan mantan kekasihnya. Ada sesuatu hal yang untuk sementara sengaja ditutup-tutupi oleh perempuan yang selalu membuatnya berkhayal jauh ke depan.

Dugaan demi dugaan muncul dalam benak Exsel. Sayangnya, dugaan tersebut selalu berakhir dengan bayangan yang akan membuatnya kecewa. Itulah sebabnya, kegelisahan tak mau beranjak pergi dari dia. Ingin sekali mengutarakan apa yang dirasakannya kini kepada orang lain, tetapi Exsel tak tahu siapa orang yang tepat untuk mendengarkannya.

“Mong-omong nih, Mak. Tapi jangan bilang siape-siape ye. Doa sebelum tidur gimane sih,” tanya Exsel menuntaskan lamunannya.

“Ya ampun, Sel. Lo pada anak muda di sini emang kagak pernah belajar. Dulu waktu kecil TPA aje cuma bikin susah Ustadz Yadi. Sekarang kan baru berasa kagak bisa ape-ape. Cari tau aje di internet,” kata Mak Ani seraya mengangkat resep pisang goreng karamel yang dicarikan oleh Exsel di internet.

Iklan

Tentang Riki Ilham Rafles

Bek sayap kanan yang suka membantu serangan dalam diam.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s