Realitas Masa Depan Olahraga

Muncul rasa optimistis saya terkait perkembangan olahraga sejak dalam beberapa bulan terakhir megikuti agenda Kementerian Pemuda dan Olahraga. Melihat dan mendengar Menpora Imam Nahrawi berbicara mengenai target yang ingin dicapainya dan juga tekadnya untuk membangun keolahragaan di tanah air agar bisa berprestasi lebih jauh, memunculkan imajinasi masyarakat yang merayakan kemenangan di setiap sudut penjuru nusantara dalam pikiran saya.

Tapi apakah itu bisa terwujud dalam 4 tahun mendatang ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018? Bagaimana cara menjawab pertanyaan itu? Di sini tekad dan pidato berapi-api Menpora hanya bisa membangkitkan semangat sementara saja, karena di lain tempat, para atlet kita yang sedang berlatih masih mengeluhkan sarana dan pra-sarana yang minim.

“Prestasi olahraga tidak bisa dibangun hanya dalam waktu 3-4 tahun,” begitu pernyataan Anton Sanjoyo yang juga jurnalis harian Kompas di forum diskusi yang diadakan oleh Kemenpora, Kamis (04/12/14) lalu. Andai saja Menpora hadir dalam diskusi itu, tentu beliau akan tertohok. mendengarnya Mengingat saat serah terima jabatan posisi Menteri dari Roy Suryo, pria yang juga politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa itu dengan lantang menyatakan target yang harus dicapai pada Asian Games mendatang adalah posisi 5 besar.

Usai mendengar pernyataan Anton Sanjoyo di atas, saya jadi mengingat-ingat apa saja “mimpi-mimpi” Menpora yang pernah saya dengar selama ini. Jika disimpulkan, memang jadi terasa naif bagi saya. Terlebih dalam beberapa kesempatan saya mewawancarai para atlet yang berprestasi sekalipun selalu mengeluhkan hal yang saya, yakni minimnya fasilitas latihan!

Maria Londa salah satunya, atlet kelahiran Denpasar, Bali yang berhasil meraih medali emas pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan lalu pernah mengatakan jika selama ini fasilitas latihannya masih minim, beruntung gadis berdarah Nusa Tenggara Timur itu memiliki tekad besar untuk bisa berprestasi. Baginya berlatih dalam kondisi apapun tidak menjadi masalah, karena yang paling diinginkannya adalah berprestasi demi mengharumkan nama bangsa.

Tidak ada yang salah dengan “mimpi-mimpi” Menpora Imam Nahrawi, karena setiap orang memiliki hak untuk bermimpi. Seperti yang sering dikutip buku-buku bertemakan motivasi, segala hal selalu dibangun dari mimpi. Ya, sekali lagi saya tegaskan, tak ada yang salah dari semua yang dimimpikan oleh Menpora.

Tapi jika melihat realitas yang ada saat ini, saya kira penting bagi Menpora untuk menentukan mana yang lebih menjadi prioritas. Mulailah dari fokus membangun cabang olahraga potensial yang kita miliki, walau cabang olahraga tersebut sama sekali jauh dari kata “populer”.

Menpora wajib tidak peduli apakah cabang olahraga potensial itu banyak digemari atau tidak. Biarkan cabang olahraga tidak populer namun menjanjikan prestasi tersebut mendapat jatah “menyusu” pada anggaran pendanaan lebih besar daripada yang lain. Karena bagaimanapun, potensi itu harus dijaga dan terus digali.

Jangan biarkan potensi yang dimiliki atlet-atlet Angkat Besi dan Atletik sirna begitu saja. Dan jangan biarkan mereka (para atlet) sampai pada titik kejenuhan karena merasa tidak diberi perhatian sama sekali. Yang mesti kita ingat adalah perjuangan dan tekad mereka untuk memberi kebanggaan kepada bangsa dan negara ini.

Kepada jajaran Kemenpora, janganlah sekalipun kalian merasa tersinggung jika membaca atau menonton berita yang berisi keluhan mereka. Walau bagaimanapun, keluhan mereka adalah wajar dan berdasar realita yang dihadapi selama ini. Bukan seperti kebanyakan “orang-orang terpilih” yang hampir setiap hari mendapat panggung di televisi untuk menyampaikan kritik tapi tidak sekalipun pernah memberikan kebanggaan kepada bangsa dan negara ini.

Iklan

Tentang Riki Ilham Rafles

Bek sayap kanan yang suka membantu serangan dalam diam.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s