Lakon Betina dalam Sebuah Drama

Ia lupa diri. Tak ada yang bisa mencegahnya berlari.
Mengejar karier hingga ke puncak tertinggi.
Terlalu bernafsu. Dalam rimba ia terus berlari.
Beberapa kali tersandung undakan akar mahoni.
Tapi ia tak peduli. Pun cerita hewan buas memangsa pencari rotan.
Lakon betina menutup mata. Kesengsaraan tak lagi ia rasa.
Sampai akhirnya semua berakhir. Ia menangis, sebab lupa jalan pulang.
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kopi yang Itu

Es sudah mencair. Mengaburkan rasa pahit. Tetapi, kau tak berhenti menyesapnya. Seolah lidah tak lagi peduli akan rasa.

Kutulis sebuah surat kepada Sukab –manusia sialan yang merasa hidupnya paling menyedihkan di dunia ini karena penolakan Alina– yang sedang tersenyum kecut usai memberikan bunga kepada Istrinya. Sang Istri terheran-heran dibuatnya, meski rasa itu akhirnya kalah dengan kegirangannya. Bertahun-tahun menjadi tukang bunga, baru kali ini Suaminya membawa pulang barang dagangan dan mempersembahkan langsung kepadanya.

Istri si Sukab terlalu polos. Andai dia punya naluri untuk curiga, pasti manusia sialan itu dibuat kikuk mencari jawaban. Beruntung sang Istri bukanlah Detektif Conan yang selalu mencari sebab sebelum menyimpulkan akibat. 

“Bunga itu bukan untukmu,” aku berusaha teriak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, selain polos, telinga kanan Istri si Sukab penuh dengan kotoran. Teriakanku hanya terdengar seperti dengungan nyamuk baginya.

Asap mengepul dari asbak di samping gelas kopi yang itu. Sumbernya adalah kretek yang dibiarkan menyala oleh seorang pria. Mungkin dia terlalu fokus merangkai kata sebelum diucapkan. Dua jam terlewati, kata itu tak kunjung jadi untaian. Dasar pria bodoh!

Aku bukan Sukab yang mampu melupakan bagaimana sakitnya ditolak Alina. Kemudian mencari pasangan baru, lalu dengan gagah berani berbuat curang. Aku tidak brengsek seperti dia.

Meski tidak brengsek, tapi aku adalah orang yang menyimpan kedengkian. Doaku selalu yang terbaik untuk perempuan itu. Tetapi kau jangan terlena, karena masih ada doa di belakang yang tak perlu kau tahu. Yang pasti, doa itu berbau kedengkian.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Manusia Sialan

Ia tak lagi sanggup menahan amarah.

Hanya satu kata yang terus diucapkannya.

Setan! Setan! Lalu melengking panjang, Setaaaaaaaan!

Amarahmu kelak menjadi bumerang.

Bukan karena sumpah, namun tekad untuk jadi pemenang.

Tunggu saja sayang.

Akan tiba kamu merasa jadi makhluk paling sialan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Melankoli Tanpa Boti

Tuhan turunkan ganja agar kau bisa tidur nyenyak.
Maka ucapkanlah terima kasih.
Hari-hari lalu kau terlihat gelisah terbakar api cemburu.
Kini kau bisa terlelap seperti masa-masa sebelumnya.
Tetapi kau lupa sedang berada di dunia berbeda.
Lepaskanlah. 
Sebab hanya waktu yang bisa membawa dirimu kembali.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

​Karena Itu Adalah Peler

Rimbun pepohonan di trotoar Sriwedari melindunginya dari terik matahari. Langkahnya bergegas menuju kedai kopi yang mengganggu sejak semalam.
Sama seperti kemarin, suara barista perempuan terdengar ramah menyapa mereka yang datang. Dengan terampil dia menyajikan kopi Bone-bone Sulawesi.
Apakah kamu tidak pernah punya masalah hidup?

Tubuhku telah berada di kota lain, tetapi keramahanmu masih menghantui pikiranku.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Jangan Kau Rusak Pesta Itu

Di sudut jalan terpampang tulisan “Bahagia itu sederhana.”
Kau jangan bersedih, karena ini baru pekan pertama bulan lima.
Gelisah sah-sah saja.
Tapi bukan berarti kau boleh bertindak sesuka hati.
Lain dulu, lain sekarang. 
Kau bukan lagi si pemilik, yang boleh datang dan pergi sesuka hati.
Jangan kau rusak pesta itu.
Ucapkan salam, kemudian terimalah kenyataan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Gadis Peragu

Gadis itu menatap nanar tanda tak percaya. Bagaimana mungkin sahabat yang baru setahun dikenal bisa meminta dia untuk membuka hati dan memberi kesempatan mendekatinya. Sahabat laki-laki yang tak pernah sungkan mengutarakan kebejatannya gonta-ganti perempuan.

“Beri aku kesempatan. Sejak pertama melihat kamu, aku memiliki hasrat tersendiri. Tidak sama seperti perempuan lain. Kamu berbeda. Kamu gadisku, Dan takkan pernah aku samakan dengan yang lain,” ujar si pria saat meminta waktu bertemu dengan si gadis di sebuah restoran.

Di sisi lain, sang gadis tak ingin sahabatnya ini patah hati. Terlebih lagi, sejak mereka berkenalan sudah sama-sama merasa cocok satu sama lain. Apapun yang dilakukan oleh si gadis, walau terlihat bodoh di mata orang lain, namun menyenangkan bagi si laki-laki. Mereka pun saling mencari. Ketika hendak berkumpul, masing-masing saling memberi kabar. Jika si gadis atau laki-laki berhalangan hadir, maka semangat mereka menurun. Pertemuan takkan jadi menyenangkan.

Dan kebetulan, saat laki-laki tersebut mengutarakan perasaan, situasinya sedang berbeda. Si gadis baru saja menyelesaikan kisah dengan mantan kekasihnya. Dia merasa sudah saatnya pergi karena tidak melihat ada cahaya positif jika terus bersama dengan pria tanpa ekspresi yang bertahun-tahun bersamanya itu.

Tak perlu waktu lama bagi si gadis untuk menganggukan kepala tanda mengiyakan. Tetapi, dia meminta waktu agar bisa perlahan-lahan percaya kepada laki-laki tersebut. Karena dia sendiri takut, jika kelak langsung berhubungan, si laki-laki akan ingkar janji. Kembali kepada rutinitasnya pergi ke klub malam dan bercinta satu malam dengan perempuan yang berkenalan di sana.

“Aku ini tidak bejat-bejat amat. Sebelum kamu, ada perempuan lain. Tapi kamu berbeda. Kamu tahu kebiasaanku tapi tak pernah menghakimi. Aku berjanji akan membuatmu percaya kepadaku,” tutur si laki-laki.

Keberuntungan sedang memihak kepada si laki-laki pada malam itu. Usai mengantar si gadis ke rumah, dia melanjutkan pulang. Tekadnya sudah bulat. Takkan ada lagi perempuan lain. 
“Gadis yang baru saja membuka hatinya untukku adalah yang paling tepat. Lepas sudah segala kegundahanku saat liburan di pulau kemarin.”

Momen-momen liburan kala itu memang menyenangkan sekaligus menyesakkan baginya. Senang rasanya si gadis tertawa melihatnya ketika berusaha melucu. Namun miris karena harus menahan rasa agar tidak mengejutkannya dengan mengatakan cinta. Si laki-laki masih belum yakin betul, apa si gadis sudah benar-benar melupakan mantan kekasihnya.

Satu, dua, tiga hari terlewati. Saatnya rombongan kami meninggalkan pulau nan indah. Kegelisahan si laki-laki semakin menjadi. Rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaan. Keluh-kesah si gadis tentang mantan kekasihnya selama mereka berduaan dalam tenda jelang tidur membuat si laki-laki tersenyum bahagia.

Si laki-laki berpikir, tak ada satu pun kelebihan yang dimiliki mantan kekasih si gadis. Dan tersirat keinginan si gadis untuk benar-benar menjauh dan membuka lembaran hidup yang baru. “Aku harus coba merebur hatinya. Kesempatan emas ini tak boleh disia-siakan.”
*** 

Sudah dua pekan keduanya berhubungan dekat. Satu sama lain mulai menunjukkan hasrat positif. Di sela-sela kesibukan, tak jarang mereka menyempatkan diri makan siang atau malam bersama. Dan hampir di setiap jelang tidur, keduanya berbincang melalui telepon. Mereka tak hentinya tertawa.

Si gadis semakin senang berada dekat dengan si laki-laki. Dibawa main ke lingkungan baru dan dipuja layaknya bidadari. Perasaannya sebagai gadis manis pun mulai tumbuh, setelah bertahun-tahun dimatikan secara paksa oleh mantan kekasihnya. 

“Ini pacar baruku. Kalian sebentar lagi akan melihat kami bersanding di pelaminan,” dengan bangga si laki-laki mengatakan itu kepada teman-teman kantornya saat bersama si gadis menghadiri sebuah pesta perkawinan kalangan jetset.

Si gadis sempat tertegun mendengar ucapan itu. Bukan dia menolak. Hanya dia masih butuh waktu lagi untuk percaya seratus persen si laki-laki kembali ke tabiat buruknya. Mendapati kenyataan yang bisa membuat peluangnya berkurang, si laki-laki mencoba cara lain.

Akhir pekan berikutnya dibawa serta si gadis bertemu kedua orang tuanya. Gayung bersambut, si gadis mengiyakan dan meminta pendapat harus tampil seperti apa. “Haruskah aku cat hitam kembali rambut ini? Orang tuamu tokoh masyarakat. Aku tak ingin membuat kecewa.”

“Sebenarnya aku suka warna rambutmu sekarang. Tapi, kalau tidak kamu tidak keberatan untuk mewarnai hitam kembali tentu aku akan sangat senang,” jawab si laki-laki.

“Aku harus tampil baik di hadapan orang tuamu. Tidak enak juga kalau nanti aku dilihat memiliki nilai negatif,” ujar si gadis sambil tersenyum menenangkan.
***

Tak ada ucapan mengenai kesepakatan keduanya menjalin hubungan. Tetapi sikap satu sama lain sudah memberi tanda akan hal itu. Setelah si gadis bertemua orang tua si laki-laki, kunjungan sebaliknya terjadi. Dan respons orang tua mereka pun sama-sama baik. Mereka bahkan didorong untuk serius menatap masa depan.

Setiap hari. Setiap malam. Setiap jam. Keduanya saling berbagi keinginan kelak akan hidup seperti apa. Mereka juga saling berbagi tentang apa yang sedang dihadapi. Hubungan semakin menghangat. Tinggal mencari momen tepat mempertemukan orang tua masing-masing sekaligus menjadi acara pertunangan.

“Baiknya, bagaimana kalau orang tua kita bertemu sebelum ramadhan tiba. Kita bisa sekaligus silaturahmi dan momennya tepat juga untuk membicarakan tanggal pernikahan.”

“Satu bulan lagi ya? Rasanya cukup untuk aku mengumpulkan uang membeli cincin untukmu. Baiklah. Kamu tentukan tempat yang cocok. Biar sisanya aku yang mengurus,” jawab si laki-laki dengan nada menegaskan kesiapan.
***

Gangguan itu datang ketika si gadis dan si laki-laki berakhir pekan ke daerah pegunungan. Niat awal mereka pergi berdua adalah mencari tempat agar bisa berbicara panjang lebar mengenai persiapan acara pertunangan nanti. Begitu tiba di penginapan, si gadis menyalakan telepon genggamnya. Ada beberapa pesan dan notifikasi telepon dari mantan kekasihnya.

Si gadis coba memberi respons dengan menjawab pesan singkat. Tak lama langsung berbalas. Sekira dua menit kemudian, si laki-laki keluar dari kamar mandi usai membersihkan badan. Tanpa sempat membalas, si gadis langsung memasukkan telepon genggam kembali ke tas.

Hampir tiga jam keduanya berbincang dan menghasilkan beberapa kesepakatan serta ide-ide baru. Si laki-laki mengeluh lapar, dan berinisiatif pergi ke restoran di lantai bawah untuk memesan makan. Ketika ditinggal, si gadis menyempatkan diri membalas pesan kekasihnya. “Nanti ya sesampai aku di rumah, kamu ambil tasnya. Maaf karena aku sedang berada di luar.”

Si gadis langsung mematikan telepon genggamnya. Dia tak ingin si laki-laki, calon suaminya menjadi kecewa atau marah karena tahu mantan kekasihnya masih coba menghubungi. Tetapi, dia juga menjadi hilang fokus saat melanjutkan perbincangan. Karena terbayang-bayang mantan kekasihnya yang tiba-tiba berubah lembut menuliskan kalimat dalam pesan singkat.

Hantu itu semakin dekat. Dalam tidur dia bermimpi bertemua mantan kekasihnya di tepi jalan sedang menunduk lesu. Si gadis menjadi ketakutan karena telah menbuat hidup orang lain berantakan. Hantu itu semakin menjadi-jadi berperan dalam mimpinya. 

Beruntung sinar matahari membuatnya membuka mata. Nampak sosok si laki-laki yang sedang tertidur pulas dengan wajah yang berbeda. “Aku takut dia kembali ke tabiat bejatnya,” gumam si gadis.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar