Dia yang Selalu Membahagiakan

Saat yang lain meributkan tingkah sesama
Aku menganggapnya pekerjaan sia-sia.
Sebab, kamu ada disampingku dan terus bercerita
Keluhan yang kadang membuatku berpikir kamu menderita

Tapi, senyum itu. Senyum yang selalu menggangguku
Mengganggu perasaanku yang selalu ingin mencintaimu
Warnai harimu, meski dengan kesedihan
Karena kamu tahu pasti, Tuhan takkan membiarkamu sendirian

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Masalah Baru Pasca Transisi PSSI

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 10 November 2016 lalu memiliki Ketua Umum baru, yakni Edy Rahmayadi. Pria yang menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu dipilih sebanyak 76 pemilik hak suara dalam Kongres Pemilihan yang berlangsung di Hotel Mercure, Ancol.

Namun, ketika belum genap sebulan menjabat, Edy sudah ditimpa masalah organisasi yang pelik. Mulai dari perumusan keanggotaan bermasalah, seperti Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan lain-lain. Kini muncul lagi terkait gagalnya Persib Bandung dan Persipura Jayapura sebagai peserta Piala AFC 2017.

Sebagai juara dan runner up Indonesia Super League 2014 –kompetisi terakhir sebelum PSSI dibekukan pemerintah yang berujung sanksi FIFA– Persib dan Persipura memiliki hak untuk kembali berlaga di Piala AFC 2017. Kompetisi itu sempat mereka ikuti setahun lalu, sampai akhirnya harus berhenti di babak 16 besar karena masalah yang mendera sepakbola nasional.

Akan tetapi, mimpi para Bobotoh dan Persipura Mania menyaksikan tim kebanggaan kembali mentas di Piala AFC harus kandas. Sebab, kepengurusan PSSI sebelumnya, tidak mengakomodir kepentingan tersebut. Diketahui, AFC selaku otoritas tertinggi sepakbola benua Asia sudah berkirim surat meminta konfirmasi keikutsertaan Indonesia sejak 30 Oktober 2016 lalu.

Entah karena kesibukan menyiapkan Kongres Pemilihan atau memang lalai, kepengurusan PSSI ketika itu tak kunjung memberi jawaban. Begitu pula ketika PSSI sudah berganti kepemimpinan kepada Edy, kepengurusan lama tak memberi informasi mengenai surat AFC tersebut kepada mereka.

Alhasil kepengurusan PSSI baru dibuat terkejut setelah menerima pengumuman terbaru dari AFC. Di dalamnya disebutkan, wakil Indonesia di Piala AFC 2017 mendatang tidak melewati proses kualifikasi administrasi pertama, yang kini sudah lewat masa berlakunya. Sehingga, mereka tidak bisa diikutsertakan dalam kompetisi.

“Kami baru saja menerima konfirmasi secara informal dari AFC, bahwa wakil-wakil Indonesia tidak qualified karena deadline pendaftaran untuk Piala AFC 2017 sudah lewat. Kami sangat terpukul,” ungkap Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono kepada wartawan, kemarin.

Meski begitu, pria yang akrab disapa Jokdri berniat melakukan lobi sebisa mungkin kepada AFC. Karena, proses pengundian grup Piala AFC 2017 mendatang baru akan berlangsung pada 12 dan 13 Desember 2016 mendatang di Kuala Lumpur, Malaysia. “Kami sedang figth memberi penjelasan kepada AFC,” tegasnya.

Jika pun nantinya lobi yang dilakukan PSSI tidak berhasil, Jokdri mengaku tak ingin terlalu ambil pusing. Yang terpenting, pihaknya sudah melakukan upaya terbaik guna menyelematkan dua klub Tanah Air yang ingin membawa nama bangsa ke level internasional. “Ini upaya yang tidak mudah, tetapi kami akan melakukannya,” tuturnya.

Persipura Kembali Jadi Korban

Terkait masalah administrasi yang tak selesai diurus PSSI telah membuat Persipura tiga kali dirugikan. Pertama terjadi pada 2006 silam. Dengan status juara Liga Indonesia 2005, sepatutnya klub berjuluk Mutiara Hitam mentas di Liga Champions Asia sebagai wakil Indonesia bersama Arema yang berstatus juara Piala Indonesia 2005.

Akan tetapi, hak tampil di level internasional terbuang sia-sia karena hal sepele. Pengurus PSSI ketika itu, lalai dalam menjalankan kerjanya. Formulir pendaftaran kedua tim tak dikirimkan kepada AFC. Akibatnya, Persipura dan Arema pun dicoret dari daftar calon peserta.

Kesialan kedua yang menimpa Persipura terjadi pada 2015 lalu. Ketika sudah melaju ke babak 16 besar, mereka dijatuhi sanksi diskualifikasi oleh AFC. Masalahnya, ketika itu ada tiga pemain Pahang FA –lawan Persipura– yang terkendala masalah imigrasi.

Sebagai tim tamu, sepatutnya ada nota dari PSSI yang bisa memudahkan ketiga pemain Pahang FA tersebut untuk masuk ke Indonesia. AFC pun bertindak tegas. Mereka mengeluarkan keputusan, bahwa Pahang FA berhak melaju ke babak 8 besar tanpa harus bertanding melawan Persipura terlebih dahulu.

Terkait polemik ini, sempat terjadi lempar tanggung-jawab antara PSSI dan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). PSSI yang ketika itu berstatus non-aktif karena surat keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga nomor 01307 merasa sudah tak bisa menjembatani urusan administrasi Persipura.

Dan BOPI sebagai wakil pemerintah yang berwenang mengambil alih permasalahan tersebut. Namun, yang menjadi janggal ketika itu, Persib yang juga bertarung di kejuaraan yang sama masih bisa menjamu Kitchee FC. Berkas administrasi mereka untuk melakoni pertandingan tidak ada yang masalah.

Persipura Mania yang marah karena tim kebanggaannya diperlakukan seperti itu memilih terbang dari Jayapura ke Jakarta. Tepat di lobi kantor Kemenpora mereka mengamuk seraya membanting pot bunga dan tong sampah yang ada. Aparat keamanan yang berjaga pun tidak mampu menahan amarah tersebut.

“Tujuan kami datang kemari adalah melanjutkan aspirasi yang kemarin disampaikan oleh pecinta Persipura ke DPR Papua. Masyarakat yang awam atas sistuasi ini berpikir bahwa kenapa Persib Bandung bisa bertanding tapi Persipura tidak bisa,” kata anggota DPR Papua, Jack Komboy yang menemani para demonstran.

Tak berselang lama, delegasi Persipura Mania ditemani oleh wakil Kemenpora, Gatot S Dewa Broto menyambangi kantor AFC di Malaysia. Mereka menggelar audiensi hingga kemudian diketahui, ternyata memang kelalaian ada di pihak PSSI. Meski sedang non aktif, seharusnya mereka tetap bekerja mengkoordinasikan soal administrasi kepada klub.

Anggota DPR Papua lainnya, Yan P. Mandenas yang ikut beraudiensi dengan AFC mengungkapkan fakta jika PSSI sebagai biang keladi didiskulifikasinya Persipura. Bahkan, dia mengatakan mendapatkan bukti langsung dari Joko Driyono yang ketika itu masih menjadi CEO PT Liga Indonesia jika PSSI telah lalai.

“Menurutnya (Joko), PSSI adalah lembaga yang berperan sebagai sponsor Liga AFC dalam bertanggung jawab pada setiap tim tamu yang bertanding ke Indonesia. Kami menilai Persipura hanya sebagai alat konspirasi PSSI untuk dibenturkan dengan Pemerintah (Kemenpora RI) oleh mereka (PSSI) yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Yan.

Dendam Kepengurusan Lama

Jika kembali menilik masalah yang muncul jelang pergantian kekuasaan di tubuh PSSI dari La Nyalla Mattalitti ke Edy Rahmayadi, memang banyak intrik yang tersaji. Mulai dari pembangkangan klub dan anggota PSSI, hingga konspirasi para elite sepakbola yang dituding sengaja menjatuhkan La Nyalla.

Kelompok 85 yang dipimpin manajer Persib, Umuh Muhtar mengobarkan api perlawanan kepada La Nyalla dan kawan-kawan pertama kali. Bersama dengan para pemilik hak suara dalam Kongres PSSI lainnya, dia datang membawa dokumen mosi tidak percaya, sehingga mendesak dilakukannya pemilihan ulang Ketua Umum.

Sekretaris Jenderal PSSI ketika itu, Azwan Karim beserta M. Nigara yang menerima Kelompok 85 nampak jelas menyiratkan wajah ketidakpercayaan sekaligus sinis akan aksi ini. Mereka tentu tak mengira, ada yang berani memakzulkan La Nyalla yang ketika itu berstatus buronan Interpol terkait kasus korupsi.

Padahal dalam Kongres Luar Biasa PSSI setahun sebelumnya, La Nyalla terpilih secara aklamasi. Calon-calon yang ingin bersaing dengannya pada hari pemilihan memilih mengundurkan diri. Namun sayang, belum juga pemungutan suara dimulai, Menpora Imam Nahrawi langsung mengeluarkan SK nomor 01307 terkait pembekuan PSSI.

Menjadi Ketua Umum yang tak diakui pemerintah membuat gerak pria asal Makassar tersebut tersendat. Ketika hendak melakukan perlawanan dengan tetap berinisiatif menggelar kompetisi, ganjalan demi ganjalan datang. Izin dari kepolisian tak didapat karena Menpora tak mengeluarkan rekomendasi.

Akhirnya, dengan keputusan sepihak, rapat Komite Eksekutif PSSI memutuskan untuk menghentikan kompetisi sepakbola di segala jenjang. Alasannya karena sepakbola Tanah Air dalam keadaan force majeur, seiring mendapatkan ganjalan perizinan kepolisian yang dilakukan Kemenpora.

Bulan demi bulan berlalu. Akhirnya La Nyalla ditangkap kepolisian, dan dijebloskan ke penjara. Kepengurusan PSSI yang ketika itu ditinggalkan induk semang mulai gamang. Mereka tak bisa bertahan dari desakan untuk melakukan pemilihan Ketua Umum pengganti.

Jajaran Komite Eksekutif mulai mencair. Mereka memilih menuruti keinginan anggota. Namun, ada kejanggala-kejanggalan dalam setiap prosesnya. Seperti diketahui, Persebaya Surabaya yang bernaung di bawah PT Persebaya Indonesia merupakan musuh La Nyalla.

Mereka yang kala itu dipimpin oleh Saleh Mukadar dicoret dari keanggotaan dan digantikan oleh Persebaya di bawah naungan PT Mitra Muda Inti Berlian milik I Gede Widiade. Akan tetapi, di penghujung kepengurusannya, para Komite Eksekutif yang memang diisi oleh orang dekat La Nyalla melunak.

Diwakili oleh Tony Apriliani, mereka menyambangi para Bonek yang menuntut status Persebaya Surabaya dipulihkan dan berjanji di atas materai akan membawa masalah ini ke Kongres Pemilihan pada 10 November 2015. Tak sampai di situ, mereka juga berjanji akan memutihkan status klub yang pernah disanksi oleh PSSI.

Akan tetapi, kini yang mesti menyelesaikan semua masalah tersebut adalah kepengurusan Edy Rahmayadi. Mau tidak mau, suka tidak suka, polemik pemutihan status klub yang pernah disanksi harus dilakukan. Padahal, ada kasus besar nan menarik selain Persebaya di sini. Arema Cronus pimpinan Iwan Budianto memiliki masalah dualisme dengan Arema Indonesia.

Andai pun selesai, pasti bakal merugikan satu pihak. Arema Indonesia jika lolos pasti akan membuat kenyamanan Arema Cronus dalam beberapa tahun ini terusik. Sama-sama berkandang di Malang, dukungan dari Aremania pun bakal terbelah. Berkurangnya penonton bakal sangat merugikan.

Dan kini muncul masalah baru soal Persipura dan Persib. Spekulasi dendam kepengurusan lama pun kembali muncul memanaskan situasi. Manajemen Mutiara Hitam mengaku tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa berharap kepengurusan baru mampu melakukan lobi kepada AFC.

“Jika ternyata kami tidak bisa ikut lantaran masalah administrasi, tentu ini akan jadi luka kedua. Artinya, ada yang tidak belajar dari kesalahan masa lalu,” ujar Juru Bicara Persipura, Bento Madubun.

Dendam selalu menjadi masalah dalam persepakbolaan Tanah Air. Di era sebelumnya pun hal yang sama kerap terjadi. Dan yang terjadi adalah pelaku sepakbola yang selalu menjadi korban ketika para elite beradu gengsi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Berani Beda

Dalam beberapa hari terakhir, saya banyak melihat di lini masa Facebook mengenai cemoohan kepada Syafii Maarif. Membacanya kadang bikin saya gerah. Apalagi ketika membaca artikel berjudul ‘Surat Kedua untuk Buya Syafii Maarif, Curhat Generasi Muda Minangkabau’, yang setelah ditelusuri lagi sudah dihapus oleh sang pengunggah.

Dalam uraian sang penulis, disebutkan bagaimana dia sebagai masyarakat Minang merasa terhina oleh pernyataan Syafii yang menyebut, mereka yang menganggap Ahok telah menistakan Al Quran ialah sakit otak. Penulis itu juga menganggap pernyataan Syafii terlalu pongah, karena tingkat pendidikannya lebih tinggi, dan bahkan sekolah ke Amerika Serikat.

Saya heran, dan juga tertawa sinis membaca tulisan di laman infohumas.com itu. Bukan soal bagaimana penulis itu memaparkan permasalahan. Tetapi karena memikirkan latar belakangnya sebagai orang Minang.

Orang tua saya berlatar Minang. Keduanya berasal dari daerah Kabupaten Solok. Saya juga sempat mengecap pendidikan di Solok, sekitar 2 tahun. Durasi yang mungkin bisa dianggap terlalu singkat untuk memahami seluk-beluk atau adat-istiadat Minang.

Namun, ketika itu saya sudah menginjak SMA. Saya pun beberapa kali berbicara dengan pemangku adat, dinasihati atau lebih tepatnya diberitahu mengenai adat-istiadat. Kabupaten Solok ketika itu dipimpin oleh Gamawan Fauzi dan memiliki aturan bagi mereka yang mau lulus sekolah atau menikah harus bisa membaca Al Quran.

Tak perlu diragukan lagi, semua orang juga tahu. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah junjungan orang Minang. Mereka yang mengaku orang Minang pasti mengamini itu semua bukan? Meski pun, tiap malam, seusai pulang dari surau masih menyempatkan diri ke lapau untuk main domino atau koa.

Tetapi, semua orang kini mengarahkan telunjuk kepada Syafii. Mereka bahkan dengan lantang meminta gelar Buya/Inyiak mantan Ketua Muhammadiyah itu dicabut. Sebab, pernyataan sudah menyakiti umat Islam, termasuk membuat malu orang Minang.

Wahai kalian yang merasa malu. Sebaiknya naikkan lagi tingkat ke-Minang-an kalian. ‘Sakit otak’ atau yang biasa kita tulis ‘Sakik utak’ adalah kenyinyiran tingkat dasar. Kata yang biasa kita lakukan untuk menyindir rekan ketika bercanda di lapau.

Jangan terlalu percaya diri pernyataan itu ditujukan kepada kalian. Karena, ibarat ada kata ‘pakai’ sebelum ‘Al Maidah ayat 51’. Di pernyataan Syafii ada pula kata ‘ulama’. Jadi, yang ditudingnya itu ulama, bukan kalian. Ulama yang tergabung dalam MUI karena telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah melakukan penghinaan terhadap Al Quran.

Berbicara ulama menyesatkan, bukan cuma Syafii yang pernah bilang toh? Kakak Rizieq Shihab pun pernah mengutarakannya. Bahkan dia mengatakan itu dengan nada tinggi, layaknya panglima sedang mengipasi anak buahnya agar tak takut mati di medan perang.

Bukan Cuma Syafii Maarif

Syafii sebagai tokoh agama tentu sadar akan berdiri di barisan terpisah dengan mereka yang seiman. Saya tidak yakin kalau dia membuat pernyataan hanya karena kekesalan impulsif. Rekam jejaknya pun tak ada yang menunjukkan tanda-tanda ke situ.

Dan saya meyakini, dia melihat permasalahan ini secara meluas, terutama mengenai suhu politik DKI Jakarta yang semakin memanas. Bukan salah Syafii jika dia memiliki pemikiran berbeda, karena dia melihat munculnya isu Ahok menistakan Al Quran dari sudut yang berbeda.

Saya kenal Syafii melalui tulisan-tulisannya di kolom opini Harian Kompas. Dia menulis tak melulu soal agama. Kritik sosial-politik juga dilahapnya. Caranya menulis berbeda dengan Komaruddin Hidayat yang sering menggunakan hikayat dalam melempar kritik.

Syafii, sebagaimana dengan latar belakang Minang-nya kerap melontarkan sindiran yang masuk dalam kategori nyinyir. Saya pernah berkelakar dengan teman kuliah, dan menyebut ke-nyinyir-an itu tingkatnya level dewa.

Siapa pun yang jadi sasaran kritik pasti akan panas, termasuk salah satunya adalah petinggi MUI saat ini yang disebut-sebut tak terima dengan cara Syafii menuding lembaganya diisi oleh orang-orang sakit otak.

Apa yang terjadi dengan Syafii saat ini, yakni menjadi musuh orang banyak bukan yang pertama kali dialami oleh tokoh asal Minang. Mohammad Hatta sudah lebih dulu memulainya. Dia bahkan di cap sebagai pengkhianat oleh aktivis muslim yang mendukung Piagam Jakarta.

Apa yang dilakukan oleh Hatta ketika itu? Dia mengusulkan agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta, ‘Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dihapus. Alasannya tentu saja sama dengan yang kita baca di buku sejarah. Atas dasar Bhineka Tunggal Ika!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Doa Sebelum Tidur

“Kopi hitam segelas, Mak. Sekalian kalo ada pisang karamel yang masih anget barang dua-tiga biji,” kata Exsel sambil meletakkan bokongnya di kursi panjang kedai kopi Mak Ani.

Exsel seorang diri. Hari masih sekitar pukul 10 pagi. Tak ada kegiatan di kedai kopi Mak Ani. Maklum, sekarang hari pertama orang-orang masuk kerja usai libur lebaran. Bagi Exsel yang masih memiliki satu hari libur lebih dari orang lain, bukanlah sebuah kebahagiaan. Sebab, dia tak tahu mesti pergi kemana untuk menghabiskan waktu.

Di rumah tak ada teman bicara. Hari-harinya diisi dengan membuka sosial media dan membaca curahan hati teman-teman. Ada yang merasa senang kembali bekerja, ada juga yang mengeluh karena waktu liburannya yang mengasyikan terasa singkat.

“Tumben jam segini udah beredar, Sel?” tanya Mak Ani seraya menghidangkan pesanan Exsel di meja.

Mak Ani tahu betul perangai pria yang sedang duduk seorang diri di kedainya ini. Biasanya, dia datang sore atau malam hari. Pagi seperti ini jika sedang libur, biasanya Exsel lebih suka meminum kopi di rumah, dan sesekali nitip ke Ibunya untuk membeli gorengan di kedai Mak Ani.

“Iya, Mak. Tadi kebangun jam 3 subuh. Di rumah sepi, males juga cuma denger-denger lagu doang,” jawab Exsel yang dalam beberapa hari belakangan selalu terjaga dari tidur ketika dini hari.

“Biasanya kalo tidur kan kayak kebo. Ibu kalo ke sini sering cerita kelakukan lo kalo tidur,” timpal Mak Ani.

“Hahaha. Ngga tau nih, Mak. Tiba-tiba aja kebangun, dan abis itu susah lagi dimereminnya,” ucap Exsel.

“Mak kasih tau ya, Sel. Kalo tidur itu baca doa dulu. Minta sama Gusti Allah ketenangan. Kalo emang masih suka kebangun karena mikirin sesuatu ya berdoa lagi. Istighfar.” Exsel sedikit terkejut mendengar nasehat dari Mak Ani. Dia merasa orang tua dengan dua anak itu tahu apa yang sedang dirasakannya.

Mimpi yang baginya selalu buruk datang dengan cerita yang berbeda setiap harinya. Ketika terbangun, gelisah pun datang menghampiri. Tak jarang air mata menetes tanpa disadari ketika dia masih berada di atas kasur.

Tokoh-tokoh dalam mimpi Exsel beberapa hari belakangan selalu sama. Kalau boleh dibilang pemeran utamanya hanya tiga orang, yakni dia sendiri, mantan kekasihnya, dan seorang pria lain yang diduga oleh Exsel membuat mantan kekasihnya kepincut. Sisanya, hanya figuran yang sialnya justru mengukuhkan Exsel sebagai pihak yang kalah.

Tak bisa marah, hanya mampu merasakan gelisah. Exsel masih ingat betul cerita “Karamel Penikmat Rasa” versi Yanto beberapa hari lalu. Dia meyakini, ini bukan cuma soal kekesalan mantan kekasihnya. Ada sesuatu hal yang untuk sementara sengaja ditutup-tutupi oleh perempuan yang selalu membuatnya berkhayal jauh ke depan.

Dugaan demi dugaan muncul dalam benak Exsel. Sayangnya, dugaan tersebut selalu berakhir dengan bayangan yang akan membuatnya kecewa. Itulah sebabnya, kegelisahan tak mau beranjak pergi dari dia. Ingin sekali mengutarakan apa yang dirasakannya kini kepada orang lain, tetapi Exsel tak tahu siapa orang yang tepat untuk mendengarkannya.

“Mong-omong nih, Mak. Tapi jangan bilang siape-siape ye. Doa sebelum tidur gimane sih,” tanya Exsel menuntaskan lamunannya.

“Ya ampun, Sel. Lo pada anak muda di sini emang kagak pernah belajar. Dulu waktu kecil TPA aje cuma bikin susah Ustadz Yadi. Sekarang kan baru berasa kagak bisa ape-ape. Cari tau aje di internet,” kata Mak Ani seraya mengangkat resep pisang goreng karamel yang dicarikan oleh Exsel di internet.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Karamel Penikmat Rasa

Sore itu, bangku di kedai kopi Mak Ani hanya menyisakan beberapa bagian yang kosong. Dari kejauhan nampak ada Paul, Joni, Yanto, dan Agus yang sedang asyik mengobrol dengan masing-masing segelas kopi berada di hadapan.

“Tumben lo sore-sore begini nongol dimari,” kata Paul menyambut kedatangan Exsel di kedai kopi Mak Ani.

“Iya nih, libur lebaran kagak kemana-mana. Di rumah juga lagi sepi. Kemari aja dah biar nunggu malem kagak berasa,” jawab Exsel.

Kedatangan Exsel sempat menghentikan obrolan di antara empat sekawan yang memang jadi penghuni tetap kedai kopi Mak Ani.

“Wey, Jon. Itu kan karamel, bukan minyak. Kenapa elo elap-elap pake tisu?,” sergah Agus yang melihat Joni sibuk meniriskan ‘gula bakar’ di pisang goreng yang dijual Mak Ani.

“Hahaha. Kampungan lo, Jon. Kerja doang di Jakarta, masa karamel disangka minyak goreng,” sambar Paul.

“Waduh. Karamel apaan lagi? Gw kira minyak goreng. Pantesan aja berasa lengket. Kepikiran Mak Ani mungkin lagi ngantuk bikinnya,” jawab Joni seraya memasang wajah kebingungan.

Mak Ijah yang sedang asyik meracik pisang goreng karamel dari arah dapur memberi penjelasan. “Itu menu baru, Jon. Semalem Exsel kemari, ngasih resep. Katanya di kafe kopi di Jakarta yang mahal-mahal ntu resep pisang goreng begitu semua. Ya Mak cobain aja barangkali di sini pada suka.”

“Nah, masalah ini mirip sama yang kita obrolin tadi nih. Karamel di pisang goreng kan pelengkap rasa. Kalo si Joni malah nge-lap apa yang harusnya dinikmatin itu namanya menyia-menyiakan kebahagiaan,” ujar Yanto, eks mahasiswa Filsafat yang baru lulus setahun lalu dari kampus paling ‘keren’ di Depok.

“Maksud lo gimana sih, Yan? Dasar orang gila. Kuliah lama, begitu lulus kagak dapet-dapet kerja ya begini nih. Apa aja disambung-sambungin,” balas Paul.

Sebelum kedatangan Exsel, keempat pemuda RW 09 Kampung Rawa, Bojong Gede, Depok memang sedang asyik membahas soal kisah asmara. Bukan kisah yang sedang mereka alami. Tetapi, kisah cinta si Fikar, pemuda RW 09 yang kini kehilangan akal sehatnya karena hubungannya dengan sang kekasih kandas.

Sebelum sampai pada taraf kegilaan seperti sekarang ini. Si Fikar sering datang ke kedai kopi Mak Ani. Di sana dia curhat kepada siapa saja yang datang. Karena seringnya Fikar curhat membabi buta, pengunjung kedai kopi menurun drastis. Mereka enggan datang jika Fikar sudah lebih dulu ada di sana. Alasannya cuma satu; “Yang dicurhatin itu-itu melulu.”

“Emak sih gak mau ngusir. Lagian kalo dia cerita selalu emak dengerin. Kasihan ntu anak. Emak tau banget kecilnya kayak gimana,” ucap Mak Ijah yang selalu sama ketika dahulu orang-orang menanyakan apa yang dirasa kedainya sepi karena Fikar.

Fikar yang oleh mantan kekasihnya dulu memiliki panggilan kesayangan Njul itu dalam enam bulan terakhir terlihat stress. Dia wara-wiri di gang, dan kadang duduk seorang diri di depan rumah kosong. Usut punya usut, Fikar sangat menyesali sikapnya dahulu kepada kekasihnya.

Cinta besar sang perempuan kepada Njul tidak mampu diimbangi. Alhasil, sang perempuan yang menurut Joni tingkat kecantikannya itu minta ampun secara perlahan meninggalkan Njul.

Njul sebenarnya sudah lama menyadari, sang kekasih sudah mengalihkan perasaan sayang dan lain-lain kepada orang lain. Tetapi, karena selalu bangga dengan hubungan di masa lalu, di mana dia selalu jadi pujaan sang kekasih, dia mengenyahkan apa yang telah disadarinya.

“Yaelah, Ul. Denger dulu penjelasan gw! Jangan motong-motong penjelasan orang makanya,” tegas Yanto. “Analoginya begini. Karamel itu rasa cintanya mantan bokinnya si Fikar. Nah salahnya Fikar, dia berlaku kayak si Joni. Di lap itu rasa cinta. Dalam artian kagak dirasain. Padahal kalo dirasain, mungkin Fikar sekarang kayak si Joni sekarang tuh.”

Joni yang sedang berusaha menggapai keranjang pisang goreng terdiam. Dia melihat ke arah teman-temannya. “Hehehe. Ternyata bener enak. Mantap resep lo, Sel.”

“Kebahagiaan itu bukan cuma soal dinikmati, tetapi juga disyukuri. Dalam kasus Fikar, andai dia bersyukur pasti apa yang dikasih sama mantan bokinnya itu juga bisa dibalas. Dan si cewek pasti juga gak akan lari kemana-mana,” timpal Agus.

“Nah ntu lo bisa ngomong kayak begono, Gus. Tapi, kenape lo malah ditinggal sama si Yati tunangan lo dulu?” tanya Paul.

“Ul, gw ini belajar. Dua tahun gw kayak begini ya kerjaannya cuma ngelamun tiap malem dan bangun tidur. Kenape si Yati dulu-dulu tiba-tiba nyuekin gw. Padahal dulunya kalo lagi di kantor hapenya mati aja dia rela malu pinjem hape temennya buat sms gua kasih kabar. Tapi ya gitulah Ul, kagak semua perempuan bisa sabar kayak Mak Ani. Mau sabar ke kita-kita yang kadang bayar utang lewat dari tanggal yang dijanjiin,” kata Agus disambut tawa teman-temannya.

“Ya lagian sih lo laki-laki padaan juga kayak kagak mau ngerti perasaan perempuan. Kalo sayang ungkapin. Kalo kesel keluarin. Kalo diambekin ya sabar. Kira-kita bisa sabar lebih lama dari kalian, tapi kalo kesel juga bisa lebih dari kalian laki-laki tau,” sahut Mak Ani.

Exsel yang sedari tadi duduk di pojokan tanpa mengutarakan pendapat sedikit pun berdiri. Dia berjalan ke arah Mak Ani dan mengeluarkan uang. “Mak, ini bayar makan minum ane. Lebihnya buat nutupin jajanan yang laen. Kalo kurang, suruh mereka namba sendiri. Gua balik duluan ya, mules bener nih perut.”

“I want to be priority. Not your minority” kalimat itulah yang sedari tadi mengganjal dipikiran Exsel. Sebenarnya dia tidak mules. Dia cuma merasa tak sanggup lagi lanjut menyimak perbincangan di kedai kopi Mak Ani.

Sore ini, ketika dia datang ke kedai kopi sebenarnya hatinya sedang gundah. Hubungannya dengan sang kekasih tak lagi seperti dulu. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi antara mereka berdua.

Dan yang paling membuat Exsel bertambah pusing. Kisah Fikar dan Agus bersama dengan kekasih-kekasihnya, bila dipadukan sama dengan apa yang dirasakannya saat ini. Kekasihnya melalui sosial media memberikan peringatan soal dijadikan prioritas sejak tiga tahun lalu.

Tiba di rumah, Exsel menuju kamar dan menyalakan sebatang rokok. Dia hanya punya dua pilihan. Bersabar seperti yang diucapkan Mak Ani atau jadi penerus Agus yang gagal, dan buruknya kehilangan akal seperti Fikar.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pesan untuk Tuan yang Ada di Sana

Kisah itu tak pernah tuntas. Ia menggumpal dalam setiap celah di hati.

Ketika gundah merasuk, arah angin memberi petunjuk.

Ke sana aku ingin berlari, kepada ia yang dekapannya selalu terasa hangat bagiku.

Rambutnya yang terkena angin di tepian pantai menyapu sebagian wajahku. Wajah yang pernah ia daratkan sebuah kecupan.

Rasa itu selalu menggangguku, namun gangguan itu tak pernah ingin aku lepaskan.

Memori tak pernah lari, karena aku tak ingin hal itu terjadi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

BUNGKAM

Bungkam seakan menjadi jalan keluar terbaik dari semua ketidaknyaman. Setiap gelisah yang tak diutarakan membuat darah berdesir. Menimbulkan sensasi tersendiri yang kadang membuat nafas seakan sesak.

Melampiaskan kemarahan tentu hanya akan membuat setiap perselisihan menjadi semakin tak karuan. Tidak! Itu tidak benar sama sekali! Seruan tersebut mungkin akan diucapkan mereka yang tidak merasakan kenikmatan saat bungkam. Bahkan mereka akan memotong pembicaraan ketika cerita masih menyisakan bagiannya.

Tapi, percayalah. Tak semua amarah harus dilampiaskan. Sekali waktu, elok rasanya kamu mencoba sensasi yang tak terkira kenikmatannya ini. Memupus amarah tidaklah sesulit yang dibayangkan, kawan!

Menjadi impulsif tentu mudah. Teriakan, makian, dan kadang disertai dengan menggeretak rahang merupakan puncak ekspresi kemarahan paling sempurna. Tak ada yang dapat memungkiri itu semua.

Hanya saja, api yang ditiban api tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Mereka harus tunduk pada hukum menang dan kalah. Tapi lain lagi jika bungkam. Bukannya hati ini kecut, tapi ya begitulah. Kenikmatan seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Bungkam kadang memang juga bisa diartikan sebagai perlawanan. Kisah seorang jagoan yang enggan buka mulut kepada seorang penjahat karena takut mencelakai orang lain bisa diartikan sebagai perlawanan bukan?

Lebih baik aku mati dalam keadaan bungkam, ketimbang melanjutkan hidup dengan cap pengkhianatan. Mungkin itu yang terlintas dalam benak si jagoan ketika memilih bungkam.

Aku memang bukan jagoan apalagi seorang figuran. Tetapi sikap bungkamku punya arti, meski kamu tidak akan pernah bisa mengerti. Biarkan sensasi ini tetap menari-nari dalam benak yang sebagian menggumpal menjadi dendam.

Depok, 8 Januari 2016.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar